JAKARTA, fornews.co – Aktivis Hak Asasi Manusia (HAM) Suciwati dan Sukinah petani peduli Kendeng, Rembang, menjadi tamu istimiwa pada malam puncak Hari Ulang Tahun (HUT) Aliansi Jurnalis Independen (AJI) ke-23 di di Ball Room Hotel Aryaduta, Jakarta, Senin (07/08) malam tadi.
Suciwati (istri Munir) dan Sukinah perwakilan petani Kendeng, yang menolak pembamgunan pabrik semen di Rembang, dua nominator penerima penghargaan Tasrif Award. Pada malam perayaan HUT AJI, ada tiga penghargaan berbeda yang diberikan kepada para aktivis yaitu Tasrif Award, Udin Award, dan SK Trimurti Award.
Pada 1998, semasa hidup Munir (suami Suciwati), koordinator Badan Pekerja Kontras (Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan) menjadi orang pertama yang menerima Tasrif Award. Bersama Kontras, Munir memenangi Tasrif Award karena kegigihan mereka dalam mengungkapkan kasus penculikan terhadap para aktivis oleh para anggota Koppasus (Komando Pasukan Khusus) Angkatan Darat Indonesia.
Munir kemudian meninggal karena dibunuh di dalam pesawat Garuda dalam perjalanannya menuju Amsterdam, Belanda dari Jakarta, karena tak pernah surut mengungkap berbagai tindakan aparat negara merampas hak asasi warganya.
Menkominfo Rudiantara, yang hadir dalam perayaan tersebut berpesan, agar wartawan dapat terus memegang independensi. Dirinya berharap para wartawan dapat meningkatkan kompetensi untuk memajukan dunia jurnalistik di Indonesia.
“Saya ucapkan selamat HUT ke-23 ke AJI. Semoga anggota AJI bisa membawakan informasi, berita, mewartakan apa yang terjadi dengan independen, beretika dan anggota AJI bisa semakin sejahtera,” ujarnya.
Sukinah menuturkan, penghargaan yang diberikan kepadanya merupakan suatu apresiasi yang begitu besar. Hal ini juga menjadi motivasi untuk memperjuangkan lingkungan di daerahnya. Ia berharap, perjuangan warga menolak pabrik semen dapat segera terwujud.
“Kami (saudara-saudara di Kendeng), sudah berjalan 130 kilometer dari Rembang ke Semarang, untuk menolak pabrik semen. Bukan pabriknya yang kami tolak, tapi lokasinya yang akan mengganggu lingkungan,” tuturnya Sukinah.
Kemudian, penghargaan SK Trimurti Award jatuh kepada aktivis pendidikan Mayu Fentami dari Bunut Hilir, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat. Mayu diganjar penghargaan tersebut karena dinilai berjasa dalam memajukan minat baca dan pendidikan warga pedalaman di Kalimantan Barat.
Sebelum malam puncak HUT, AJI menggelar tribute untuk wartawan senior Tempo Ahmad Taufik dan pendiri AJI yang wafat pada 23 Maret 2017. Ahmad Taufik mengembuskan napas terakhir di Rumah Sakit Medistra, Jakarta, setelah dirawat selama beberapa pekan karena penyakit kanker paru-paru.
Selama berkarier sebagai wartawan, Taufik menerima beberapa penghargaan seperti anugerah Tasrif Award-Indonesia Press Freedom Award. Pada 1995, ia memperoleh International Press Freedom Award dari Committee to Protect Journalists (CPJ) yang berbasis di New York, Amerika Serikat.
Ketua AJI Indonesia, Suwarjono mengemukakan, Ahmad Taufik atau yang akrab disapa AT atau Opik merupakan bagian penting dari AJI. “Selain pendiri, dia aktivis AJI yang semasa hidupnya konsisten membesarkan, menegakkan, dan memperjuangkan nilai-nilai AJI yakni kebebasan pers, profesionalisme jurnalis dan kesejahteraan,” bebernya.
Selain tribute untuk Ahmad Taufik, perayaan HUT AJI Ke-23 dimeriahkan Penyerahan Penghargaan Udin Award, Tasrif Award, SK Trimurti Award, serta orasi kebudayaan oleh Karlina Supeli. Seperti tahun sebelumnya, perayaan HUT AJI akan dirangkai dengan Festival Media. Untuk tahun ini, Festival Media digelar di Solo, bertepatan dengan Kongres AJI November mendatang. Kongres AJI tersebut akan menjadi agenda penutup kepengurusan AJI pimpinan Suwarjono. (ibr)

















