
PALEMBANG, fornews.co- Innalillahi Wainaillaihi Rojiun. Pimpinan Forum Komunikasi Umat Beragama (FKUB) Sumsel, KH Thohlon Abd Rauf, menghembuskan nafas terakhir di Rumah Sakit Muhammadiyah, sekitar pukul 02.00WIB, Kamis (02/02) dinihari, setelah sempat dirawat selama kurang dari sepekan.
Almarhum yang dikenal sebagai ulama besar, guru, dan buya yang berwatak keras ini meningkat dunia di usia 78 tahun. Setelah dibawadan disemayamkan di rumah duka di jalan Seduduk Putih, Lorong Serasan sekundang No. 7 Rt24 Rw 06 Kelurahan 8 Ilir Palembang, sang buya pun dimakamkan di TPU Taman talang kelikir Palembang.
Sepanjang hidupnya, almarhum membaktikan diri untuk agama dan bangsa, melalui berbagai organisasi kemasyarakatan, mulai di Pengurus Wilayah Muhammadiyah Sumsel, Forum Komunikasi Umat Beragama, dan beberapa organisasi lainnya. Ulama Sumsel yang akrab dipanggil Buya Thohlon tersebut, dikenal sebagai tokoh yang tegas, berwibawa dan agak keras ketika memperjuangkan persoalan-persoalan norma, akidah, dan adanya indikasi ketimpangan. “Beliau juga pendekar silat, dan pendiri tapak suci Putra Muhammadiyah Sumsel. Sekarang, Ayahanda kami telah meninggal dunia,” ungkap putra almarhum, Khalifah Alam.
Gubernur Sumsel Alex Noerdin yang hadir ke rumah duka menyatakan, sangat merasa kehilangan tokoh tegas dan seorang penjaga kerukunan umat beragama di Sumsel. “Kami semua kehilangan Mamanda Thohlon Abd Rauf. Jasa beliau memimpin Forum Komunikasi Umat Beragama (FKUB) Sumsel turut menjaga suasana kondusiftas kehidupan antar umat beragama di Sumsel selama ini. Beliau akomodatif menerima semua mahluk Allah. Atas nama Pemerintah provinsi Sumsel dan warga Sumsel mari kita sama-sama ucapakan terima kasih. Semoga diampuni dosanya diterima amal ibadahnya dan ditempatkan ditempat yang layak disisi Allah SWT. Tunggu kami di pintu Surga” ujarnya.
Begitu juga dengan Bupati OKI Iskandar SE, yang turut hadir di rumah duka, mengungkapkan, sosok almarhum Thohlon Abd Rauf merupakan pemimpin tegas, dan mampu memberi berbagai pencerahan kepada para juniornya, baik di organisasi Muhammadiyah ataupun lainnya. “Keluarga besar PAN Sumsel merasa kehilangan sosok beliau. Apalagi, beliau adalah tokoh Sumatera Selatan,” ungkapnya.
Iskandar menambahkan, sangat sulit mencari tokoh yang sepanjang hidupnya berjuang untuk Sumsel. Menjaga nilai norma dan kerukunan umat beragama lewat FKUB. “Semoga arwah beliau diterima disisi-Nya. Dan kami merasa sangat kehilangan,” tutupnya.(tul)

















