Duka Ferry Rotinsulu Dibalik Gempa Donggala dan Kepergian Sang Mama
penulis : sidratul muntaha
Gestur tubuhnya langsung terdiam dan seperti kembali mengingat semua kejadian, mulai dari perjalanan udara dari Lampung menuju Donggala, kematian sang mama dan gempa yang mengguncang tanah kelahirannya.
“Saat itu, saya hanya berpikiran kalau hari itu adalah akhir dari hidup saya, ya saya pasrah,” ungkap Ferry Rotinsulu, ketika diajak bercerita tentang gempa dan tsunami yang mengguncang Palu, Sigi dan Donggala, kepada fornews.
Tidak ada perasaan sama sekali dalam benak Ferry, kalau tanah kelahirannya di Desa Labuan Salumbone, Kecamatan Taweali, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah (Sulteng), bakal mengalami kehancuran akibat bencana alam gempa bumi dan dibarengi tsunami, pada 28 September 2018 lalu.
Jika merujuk pada semua yang terjadi itu, memang seolah Ferry diharuskan berkumpul bersama keluarga besar di Desa Salumbone. Karena, seminggu sebelum peristiwa yang menyayat hati Indonesia itu, legenda hidup Sriwijaya FC (SFC) ini dihubungi keluarganya via ponsel. Ferry yang lagi bekerja sebagai pelatih di klub Lampung Sakti, mendapat informasi bahwa mamanya lagi sakit keras.
“Sebelum mama meninggal, ya di bawa ke rumah sakit. Tapi sebelumnya, masih bisa telponan dan video call, sangat terlihat jelas badannya sudah tidak bisa bergerak dan saat berbicara dengan saya sampai meneteskan airmata. pada tanggal 19 September saya berangkat ke Palu,” tuturnya.
Setelah tiba di Palu, mantan penjaga gawan Timnas Indonesia itu langsung menuju ke Rumah Sakit untuk bertemu mamanya. Dua hari di rumah sakit atau pada Kamis 21 September, kakak tertua Ferry menyarankan agar mama mereka sebaiknya kembali dibawa pulang ke rumah.
“Ya mama itu tidak mau meninggal di rumah sakit, inginnya di rumah. Jadi akhirnya malam itu juga mama dibawa pulang. Pas sampai di rumah, pukul 22.15 WITA dan saya juga ada disitu, kemudian pukul 23.30 WITA, ketika saya membisikkan ditelinga mama sambil membaca Alfatihah dan meminta maaf dan semua keluarga minta maaf, mama meninggalkan kami dengan tenang,” kenangnya.

Usai sepeninggal sang mama, Ferry pun berencana akan pulang ke Lampung, empat hari setelahnya. Karena, ada rencana Sriwijaya FC akan uji coba dengan Lampung Sakti pada 5 Oktober. Namun, tantenya menyarankan pada Ferry untuk pulang setelah genap tujuh hari setelah meninggalnya ibundanya.
“Karena ujicoba itu juga ternyata batal. Nah, sebelum hari gempa itu, sorenya saya sempat main bola bersama rekan-rekan kecil saya di lapangan bola yang membesarkan saya,” katanya.
Suami dari Anisha Katarima itu menerangkan, bahwa sore saat main bola sebenarnya sudah terjadi gempa kecil beberapa kali dan mereka pikir itu gempa biasa. Kemudian malam sebelum gempa, Ferry juga sudah punya rencana bersama keluarga dan rekan rekannya membakar ikan bersama. Bahkan, Ferry sempat mengambil uang dari ATM sebesar Rp1 juta dan kemudian membeli empat kotak air minum kemasan. “Ketika baru masuk adzan Magrib, saat saya mandi itulah terjadi gempa besar. Saya sangat merasakan getaran besar dan aliran listrikpun padam. Saya lagi gosok gigi dan hanya bisa pasrah di kamar mandi, begitu gempa redah saya baru keluar,” ujarnya.

Selang beberapa saat dan Ferry keluar dari kamar mandi, semua lemari di dapur sudah jatuh dan berantakan. Hanya mengenakan handuk, dia sudah tidak lagi melihat semua keluarganya. Karena, bapak, kakak, adik serta keponakannya sudah keluar dan pergi ke bukit bersama warga lainnya.
“Semua keluarga sudah lari keluar menuju bukit, karena posisi mereka semua ada di depan, saya di belakang. Kemudian saya lewat samping ke depan, dan menoleh ke arah laut yang jaraknya hanya 50 meter dari rumah saya. Kondisi air laut sudah surut dan berputar. Saya menunggu air lautnya naik dulu. Begitu naik dan ternyata naiknya (tsunami) tidak seberapa, karena ada tanggul di area pantai yang cukup tinggi. Akhirnya saya masuk ke rumah lagi,” paparnya.
Dalam kegelapan dan sendirian di rumah yang berantakan, Ferry mencoba mengambil baju dan celana dengan perasaan takut, lalu keluar lagi. Setelah benar-benar aman, dia mengambil tas yang memang sudah di packing karena akan pulang sebelumnya. Barulah Ferry menyusul keluarga ke perbukitan, yang berjarak sekitar 500 meter. “Setelah beberapa jam menyusul keluarga di bukit, kira-kira pukul 24.00 nya saya kembali turun ke rumah, walaupun masih ada beberapa kali gempa. Saya mengambil bantal dan tiker untuk tidur keluarga, apalagi anak adiknya masih sangat kecil,” jelasnya.

Hari ketiga pascagempa, urai Ferry, belum ada bantuan sama sekali dari pihak luar. Kalaupun ada makanan, itu memang merupakan stok dari rumah warga masing-masing. Tapi yang disayangkan, banyak pihak-pihak yang memanfaatkan kondisi seperti itu, misal harga bensin mencapai Rp65.000 untuk satu botol. “Namun saya tetap beli bensin itu untuk bahan bakar genset, yang bisa dipakai untuk mengecas ponsel warga satu kampung. Sinyal baru masuk saat hari keempat dan itupun harus turun ke pantai dengan semua resiko,” urainya.
Barulah hari keempat itu, Ferry dapat menghubungi sang istri, yang sudah sangat takut. Begitu juga putri tertuanya yang selalu nangis, terlebih setelah nonton semua berita di tv.
Walau gempa yang mengguncang tanah kelahirnya menghancurkan banyak rumah, namun di Desa Labuan Salumbone tidak sampai menelan korban jiwa seperti di kota Palu. Hanya saja, di tempat pengungsian warga tepatnya di lapangan bola, warga harus mencari makanan.
“Ya kami hanya makan nasi dan mie instan. Karena suplai makanan habis, ya saya makan kelapa. Kan lengkap kelapa itu, ada airnya juga. Tapi, ketika saat itu ada informasi dari menteri disilahkan masuk ke supermarket ambil makanan dan ke SPBU untuk mengambil bensin. Wargapun melakukan itu,” ujarnya, seraya menambahkan, masih untung saat itu ada dana desa yang diperbantukan untuk warga membeli kebutuhan makan, seperti beras dan sebagainya.
Selama 10 hari itu juga, Ferry merasa tidak bisa tidur nyenyak, karena selama itu juga terjadi puluhan kali gempa setiap hari. Hal yang paling penting itu, warga harus bisa makan, istirahat dan menjaga kondisi masing-masing. “Saya berharap keluarga dan semua masyarakat di Palu, Donggal dan Sigi bisa bertahan dan banyak pihak yang memberikan bantuan untuk mereka. Amiin,” tandasnya.*

















