Oleh : Bagindo Togar Bb, Pemerhati Politik Sumsel dari Forum Demokrasi Sriwijaya (ForDeS)
Tak lama lagi beberapa daerah di Indonesia akan melaksanakan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Serentak, tepatnya Rabu 27 Juni 2018. Khusus di Sumatra Selatan (Sumsel), tercatat ada Pemilihan Gubernur (Pilgub), dan tiga Pilwako dan lima Pilbup. Dalam Konteks ini, publik cenderung melirik perkembangan atau dinamika sosial ditataran kontestasi Pilgub Sumsel. Tentu saja diwajarkan, bila beragam upaya atau instrumen dikerahkan oleh para pasangan calon (paslon) dan pegiat politik, mengamatinya agar memperoleh deskripsi, progresifitas konstituen, polarisasi dukungan dan juga elaktibilitas paslon yang tengah berkompetisi.
Beberapa hari silam, tepatnya tanggal 8 Juni 2018, satu dari wadah jajak pendapat, yaitu Lingkaran Survey Indonesia (LSI) atau lebih popular dengan LSI Denny JA, mempublikasi hasil survei yang dilakukan rentang waktu 1- 5 Juni untuk pemilihan Gubernur Sumatera Selatan, di Hotel berbintang di kota ini. LSI Denny JA cukup berpengalaman dan kesohor di negeri ini, dimana sebelumnya Denny JA PhD berjuang bersama dgn Dr Saiful Mujani dalam Organisasi Lembaga Survei Indonesia (LSI – juga), yang pecah kongsi pada Tahun 2004 lantaran perbedaan orientasi maupun persepsi, atas tujuan gagasan keberadaan atau pendirian organisasi profesional di bidang jajak Pendapat (survei).
Tahun 2005, Lingkaran Survei Indonesia resmi berdiri dan Denny JA pisah dari Saiful Mujani. LSI SM tergabung dalam Asosiasi Persepi (Perhimpunan Survei Opini Publik Indonesia), sedangkan LSI Denny JA tergabung dalam AROPI (Asosiasi Riset Opini Publik Indonesia) dan juga ada Asosiasi sejenis seperti ALSCHI. Padahal kedua pionir profesional survei ini berasal dari alumni yang sama, asuhan Prof Dr William Lidle di Ohio State University, USA.
Kembali dalam konteks Pilkada Sumsel, LSI Denny JA menyebutkan bahwa hasil surveinya Paslon Gubernur nomor urut 4 (Dodi Reza Alex – Giri Ramanda) lebih berpeluang untuk memenangkan Pilkada yang dilaksanakan pada 27 Juni nanti. Dengan perolehan dukungan 27,7%, menyalip Paslon nomor urut 1 (Herman Deru – Mawardi Yahya) 23,2%. Sementara Paslon Gubernur nomor urut 3, Ishak Mekki – Yudha Pratomo 18,4%, dan pasangan nomor urut 4 Aswari Rifai – M Irwansyah 8,6%, serta Swing Voters 22,1%.
Ada kejanggalan yang terfokus pada jumlah pemilih yang belum menentukan paslon pilihannya, dengan persentase yang sangat besar yaitu 22,1% tadi, tatkala pelaksanaan pilkada, efektif tinggal hitungan hari lagi. Tidak menjadi hal yang utama, trend paslon mana yang menguat untuk memenangkan Pemilihan Gubernur nanti, tetapi tidaklah etis juga tidak beralasan rilis resmi hasil survei seperti tersebut diatas disampaikan mendekati hari pencoblosan dengan Swing Voters yang tergolong tinggi, diatas 20%, yang lazimnya tak lebih dari 10%.
Lebih pantas, bila hasil survei seperti itu dilaksanakan ketika para paslon baru saja ditetapkan oleh KPU sekitar tiga atau empat bulan yang lalu. Tentu publik memaklumi masih besarnya jumlah Pemilih yang belum bersikap. Kemudian, jelas disampaikan bahwa Paslon nomor urut 4 ‘hanya’ menganggap kompetitor sejatinya adalah Paslon nomor urut 1.
Di sini ada kesan paslon nomor lainnya bukan rival sepadannya, ditambah upaya khusus me-remind publik, untuk menyoroti kasus asusila atas paslon tertentu yang telah dilupakan masyarakat, sungguh berjarak dengan tatakrama kepatutan. Selanjutnya, ada indikasi upaya branding and driving opinion, bahwa paslon nomor tertentu lebih berpeluang memenangkan pertarungan Pilgub Sumsel.
Secara psikososial, masyarakat yang belum menentukan sikapnya, cenderung akan mengarahkan pilihan terhadap paslon yang berpeluang. Kemudian, para pemilih yang telah bersikap akan menguatkan pilihannya. Tak bisa dihindari, ‘Tarung Opini’ antar paslon yang berkompetisi, akan lebih humble and wise bila ada paslon yang terusik dengan rilis survei ini, untuk meresponnya dengan melakukan aksi Konseptual Kuantitatif, sebagai kontra opini yang mampu menyajikan data fan fakta yang lebih rasional, teruji serta akuntabel.
Bukan juga dengan bereaksi melakukan Publikasi Jajak Pendapat oleh lembaga sejenis, yakni Konsep Indonesia, yang mengunggulkan paslon tertentu selisih 6,3 %, hanya 620 responden dan Swing Voters nyaris 30%. Untuk kedepannya, diharapkan lembaga survei yang berfungsi sebagai barometer aspirasi sosial kemasyarakatan, agar lebih wareness dan selektif dalam merepresentasikan kinerja institusinya.
Apa lagi yang bersentuhan terhadap aktifitas maupun sketsa politik warga. Akhirnya, ‘Kecerdasan dan ketangkasan’ masyarakat Sumsel diyakini mampu menyikapi publikasi hasil – hasil survei aktifitas berdemokrasi terkait Pilkada. Tentu saja, dari paslon dituntut untuk tak hanya siap sebagai Sang Pemenang, tapi juga mampu bersikap satria bila belum layak untuk jadi penerima amanah dari rakyat, Sang Pemegang Kedaulatan.(*)

















