PALEMBANG, fornews.co – Kota Palembang terpilih menjadi salah satu dari lima kota di Indonesia yang masuk dalam pilot project untuk peningkatan kapasitas menyusun rencana aksi pengendalian perubahan iklim.
“Lima kota ini yakni Palembang, Depok, Malang, Denpasar, dan Makassar terpilih atas rekomendasi Kementerian LHK untuk menyusun aksi pengendalian perubahan iklim. Selain itu, Palembang salah satu kota yang terindikasi terdampak resiko perubahan iklim,” ujar Sekretaris Pusat Pengelolaan Risiko dan Peluang Iklim IPB, Muhammad Ardiansyah usai menghadiri kunjungan delegasi UCLG ASPAC (United Cities and Local Government Pacific) terkait pembuatan rencana aksi perubahan iklim, di Ruang Rapat Setda II Pemerintah Kota Palembang, Senin (02/09).
Menurut Ardiansyah, dua kegiatan utama dalam pelatihan menyusun rencana aksi ini yakni, pertama peningkatan kapasitas Pemkot Palembang dalam hal menghitung inventarisasi emisi gas rumah kaca dalam empat sektor yaitu sektor energi, industri, sampah, dan afolum. Kedua peningkatan kapasitas menyusun penilaian kerentanan terhadap perubahan iklim.
“Dari kegiatan itu kita lihat seberapa besar dampak perubahan iklim Palembang di masa depan, sehingga Pemkot dapat menyusun kapasitas menurunkan sektor yang berkontribusi pada emisi, dan mana saja wilayah yang paling terdampak perubahan iklim. Dari situ akan disusun rencana aksi pengurangan emisi gas rumah kaca,” jelasnya.
Penyusunan rencana aksi adaptasi perubahan iklim ditujukan kepada wilayah-wilayah yang sangat rentan beresiko terhadap iklim. Risiko kekeringan, iklim basah, serta kebakaran hutan.
“Sebagai inisiasi awal, alhamdulilah Pemkot sangat menerima, setelah ini masih ada beberapa tahap yang akan dijalankan. Karena Pemkot Palembang menyusun kelompok kerja terlebih dahulu, setelah itu bulan Oktober mendatang baru kita susun perencanaannya,” tukasnya. (irs)
















