PALEMBANG, fornews.co – Sejumlah bandara di Indonesia termasuk di Bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II, Palembang, sepi penumpang. Akibatnya, banyak tenan di Bandara SMB II yang mengalami kerugian omset hingga 50%, bahkan ada yang gulung tikar.
Asisstant Manager Off Commercial PT Angkasa Pura II Person Bandara SMB II Palembang, Riski Indra Budiman mengatakan, ada 40 tenan yang mengalami penurunan pemasukan, dua di antaranya malah tutup.
Penyebab masalah ini karena tingginya tarif tiket pesawat terbang, sehingga memengaruhi pengguna jasa penerbangan dan beralih ke moda transportasi lain. Selain itu, juga pengaruh diberlakukannya bagasi berbayar.
“Ini terjadi di awal tahun sampai dengan mudik lebaran. Penurunan omset terjadi sekitar 40-50%, dan tergantung dari mata dagang yang dijual juga,” kata Riski.
Menurut Riski, tenan-tenan yang mata jualnya adalah food and beverage, meskipun mengalami penurunan masih bisa bertahan, tetapi tidak pada tenan yang mata jualnya semacam pakaian.
“Ada dua buah tenan yang langsung drop dan tutup, salah satunya tenan yang mata jualnya adalah batik. Kemungkinan di seluruh bandara juga sama,” ujarnya.
Untuk mengatasi ini, pihak Angkasa Pura akan menyesuaikan tarif penyewaan tenan dengan melihat pergerakan penumpang penerbangan.
“Omset dari tenan-tenan yang ada di bandara in line dengan pergerakan penumpang, semakin banyak penumpang maka semakin banyak peningkatan potensi omset dari tenan-tenan, begitu pun sebaliknya,” ujarnya.
Sejumlah pemilik tenan yang berhasil ditemui mengakui jika kondisi Bandara SMB II saat sepi.
Jelsi, salah satu pegawai di tenan Roti’O mengatakan, penuruan omset telah dirasakan sejak Februari 2019. Bahkan pihaknya pun harus berhati-hati dan memperhitungkan tentang jumlah roti yang akan dijual.
“Dalam produksi kami sedikit menahan pembakaran roti, jangan sampai produksi semakin jelek kalau tidak ada yang membeli,” ujarnya.
Begitu juga yang dalami tenan Securitech Wrapping atau jasa pengemasan barang. Ini tenan yang paling merasakan dampak dari kenaikan tarif pesawat.
“Hari-hari biasa turun omset, ramai saat lebaran saja, ini saja sudah mulai sepi lagi, kami mengalami kerugian hingga 70 % atau kalau dalam bentuk uang mencapai puluhan juta,” kata Rully Ariasnyah.(irs)

















