Palembang,fornews.co-1 dari 2 pemilih dalam Pemilu ke depan adalah generasi muda atau milenial. Mereka adalah generasi yang lahir tahun 1980-1999 yang saat ini berusia 17-38 tahun. Ada 51 persen angka mereka.
Presiden Republik Indonesia Joko Widodo atau biasa disapa Jokowi dalam satu kesempatan menyinggung soal potensi yang di miliki oleh bangsa ini namun belum begitu tergarap maksimal, yaitu potensi sumber daya manusia produktifnya. Menurut Presiden, Indonesia memiliki 250 juta penduduk, dan 60% dari penduduk adalah anak muda. Jumlah tersebut, menurut Presiden, akan terus meningkat dan diperkirakan nanti tahun 2040 jumlah usia produktif Indonesia mencapai 195 juta (lihat https://fornews.co/news/tiga-komponen-bahan-bakar-ekonomi-politik-indonesia-2018/).
Terkait politik orang nomor satu di Republik Indonesia ini mengatakan bahwa tahun ini Indonesia memasuki tahun politik, sehingga kebijakan apapun dapat secara signifikan memberikan pengaruh. Pernyataan ini mengingatkan kita walaupun pemilu masih akan berlangsung tahun 2019 namun konsolidasi sudah mulai dilakukan tahun 2018. Apalagi 2018 juga diselenggarakan 171 pilkada serentak di Indonesia.
Dalam Out Look 2018 Alvara Research Center (ARC) menyebutkan setidaknya ada tiga isu yang akan sangat mewarnai wajah politik 2018. Pertama, Populisme barbasis agama, pertarungan antara kelompok nasionalis dan islamis politik akan tetap mewarnai dan mendominasi wacana dalam memperebutkan potensi suara pemilih baik untuk pilkada serentak 2018 maupun untuk PilPres 2019.
Kedua, It’s economy, stupid, tidak bisa dipungkuri persoalan ekonomi akan tetap menjadi isu seksi yang banyak dibahas selama tahun 2018. Ketiga, Pemilih Milenial, jumlah pemilih dalam pemilu 2019 akan didominasi oleh generasi milenial. Milenial yang lahir dalam rentang 1981 – 1999 ini akan berusia 20 – 38 tahun dan jumlahnya mencapai sekitar 86 juta jiwa atau dengan kata lain 48% pemilih pada pemilu 2019 adalah generasi milenial, bila ditambahkan dengan pemilih yang berusia 17 – 19 tahun jumlah pemilih dalam rentang 17 – 38 tahun mencapai 51%, artinya 1 dari 2 pemilih adalah generasi milenial, sebuah jumlah pemilih yang sangat menggiurkan bagi partai atau kandidat yang akan bertarung di pemilu 2019.
Dalam buku Millennial Nusantara (Gramedia, 2017) karakter generasi milenial ada tiga yang disebut sebagai 3C yaitu Pertama, Confidence, mereka ini orang yang sangat percaya diri, berani mengemukakan pendapat dan tidak sungkan-sungkan berdebat di depan publik. Kedua, Creative, mereka adalah orang yang biasa berpikir out of the box, kaya akan ide dan gagasan dan mampu mengkomunikasikan ide dan gagasan itu dengan cemerlang. Ketiga, Connected, mereka adalah pribadi-pribadi yang pandai bersosialisasi terutama dalam komunitas yang mereka ikuti, mereka juga aktif berselancar di sosial media dan internet.
Karena melihat potensi suara yang begitu besar, beberapa partai dan kandidat yang akan bertarung dalam kontestasi pemilu sudah mulai dengan serius melirik dan mentarget generasi milenial, dari yang masih malu-malu hingga ada yang sudah terang benderang menyatakan diri sebagai partai milenial. Pelaku dan aktor politik ramai-ramai menggunakan sosial media dan internet untuk mengkomunikasikan ide dan gagasannya kepada generasi milenial.
Padahal mentarget pemilih milenial tidaklah mudah, pilihan politik milenial susah ditebak dan mereka juga cenderung apolitis sehingga membuat mereka susah didekati oleh partai politik/kandidat, mereka juga terkenal memiliki tingkat loyalitas yang rendah dan suka berpindah pilihan politiknya tergantung trend yang terjadi saat itu.
Akhirnya, ARC menyimpulkan 2018 adalah tahun dimana masyarakat urban middle-class millennial yang akan memegang kunci utama ekonomi politik Indonesia. Ada tiga cara untuk mendekati mereka, beradaptasi dengan karakter mereka, ajak bicara mereka dengan bahasa mereka, dan bergaullah lebih intim dengan mereka. (cng)

















