PALEMBANG, fornews.co – Pascarenovasi, Museum Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II Palembang, kini semakin menarik untuk dikunjungi. Lantai dasar bangunan yang dulunya merupakan Kantor Pemerintahan Kolonial Belanda (abad 18), itu kini sudah dibukak untuk publik.
Sejumlah benda-benda bersejarah lambang kehidupan di masa lampau yang menghiasi sisi ruangan museum, seakan menghantar pengunjung hidup di masa itu. Di bangunan klasik dengan arsitektur Eropa itu, setiap pengunjung akan dibekali pengetahuan sejarah masa kejayaan Kesultanan Palembang, hingga peristiwa yang melukai masyarakat Palembang kala itu, atas diasingkannya SMB II yang memiliki nama asli Raden Hasan Pangeran Ratu, ke Ternate (1822-1852).
Di museum yang diberi nama untuk mengabadikan jasa dari Pahlawan Nasional (SMB II) asal Palembang, itu juga menuntun bagi wisatawan melihat peninggalan masa Kerajaan Sriwijaya (abad ke-7/682 Masehi) yaitu, prasasti menggunakan penanggalan tahun Saka 604, di antaranya: Prasasti Kedukan Bukit, Prasasti Talang Tuo, Prasasti Talang Batu, Prasasti Boom Baru, yang ditemukan di wilayah Kota Palembang (Ibu Kota Provinsi Sumatera Selatan).
Kiki Fitria Staff di Musem SMB II Palembang menjelaskan, dibukaknya seluruh ruangan untuk publik merupakan inovasi baru dari Pemkot Palembang, dan kebijakan ini baru diberlakukan pasca-Asian Games 2018 lalu. Untuk masuk ke museum pengunjung juga tidak perlu membuka alas kaki, cukup dibungkus dengan plastin tang telah disediakan pihak pengelola Museum.
“Saat Dulu banyak atlet yang tidak mau masuk ke museum karena tak mau lepas sepatu. Akhirnya dicoba pakai pembungkus sepatu, jadi pengunjung tak perlu repot lepas alas kaki,” tutur Fitri kepada fornews.co, Jumat (12/10).

Lanjut Fitri, ruang yang terdapat di lantai dua, pengunjung akan disajikan koleksi baru museum yakni lukisan Ratu Sinuhun, yang merupakan penulis Kitab Simbur Cahaya. Kitab ini berisi undang-undang tertulis perpaduan antara hukum adat dengan ajaran Islam. Ratu Sinuhun, diperkirakan lahir di Palembang, pada abad ke-16 dan wafat tahun 1642M.
Di ruang yang sama juga terdapat koleksi baru yakni guci dan piring hasil temuan di dasar Sungai Musi, kawasan 3 Ilir, Palembang. Guci serta piring tersebut, diyakini merupakan peninggalan Dinasti Ming.
Bergeser ke sisi selanjutnya, pengunjung juga disuguhkan lukisan (heroik) peperangan melawan kolinial Belanda di Palembang, serta lukisan proses pengasingan Sultan Mahmud Badaruddin II, ke Ternate. Di ruang itu pula terdapat kursi meja tamu Giwang serta botol-botol minuman masa penjajahan Belanda, yang merupakan koleksi terbaru di museum ini.
Setelah melihat-lihat di lantai dua, pengunjung akan diarahkan oleh pemandu turun ke ruang bawah museum melalui tangga yang selama ini tertutup bagi umum, yang ada di penghujung ruangan. Kemudian di ruang bawah pengunjung disuguhkan gambar beragam jenis kain songket, sewet dan batik lokal, ada juga Gedogan (alat pembuat kain songket), serta terakhir terdapat miniatur rumah limas serta Masjid Agung Palembang.
“Sebenarnya masih ada ruangan yang akan di pugar lagi, namun nampaknya belum bisa di realisasikan dalam waktu dekat, yang jelas dengan direnovasinya museum ini kami berharap akan lebih banyak mendatangkan pengunjung,” ucap Kiki.
Siti, salah satu wisatawan dari Malaysia, merasa museum ini sangat bagus untuk dijadikan bukti tentang sejarah yang ada di Palembang. “Saya sangat interest dengan museum ini. Museum ini mengingatkan kita tentang budaya melayu,” ujarnya dengan ligat melayu.
Sebagai informasi, untuk tarif masuk Museum SMB II Palembang, pihak pengelola memberi tarif dengan empat kategori pelajar Rp1.000; mahasiswa Rp2.000; wisatawan domestik Rp5.000; dan mancanegara Rp20.000. (mg2/ibr)

















