MENDAMBAKAN hasrat untuk meneruskan pendidikan ke luar negeri, terlebih hanya anak dari penjaga sekolah, tak ubahnya seperti memimpikan hal yang sulit terwujud. Tapi, seorang Ade Irma Elvira (33), bisa membuat semua itu menjadi nyata.
Anak dari pasangan Sudarmi dan Muhammad Thamrin ini, mampu menyelesaikan pendidikan S2 di University Moscow Timiryazev Agricultur Academy, Jurusan Teknik dan Manajemen Lingkungan. Ade yang menjadi pembicara pada talkshow dari buku karangannya berjudul ‘Merangkul Beruang Merah’ di Gramedia World Palembang, Sabtu (5/11), menceritakan semua perjuangannya, selama tiga tahun di Negeri Beruang Merah itu.
Setelah merampungkan pendidikan S1 Universitas Islam Sumatera Utara (UISU), Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian duku, sekitar tahun 2010 lalu, Ade dihubungi Pemerintah Rusia, ketika pengajuan bea siswa yang dikirimkannya, mendapat respon. Mengingat beasiswa tersebut hanya untuk pendidikan, Ade harus kembali berfikir bagaimana untuk mencari biaya tinggal. Dari semua cara yang dilakukannya, Ade menghubungi Agung Laksono, yang saat itu menjabat Menko Kesra. Ketika Agung Laksono ke Medan, dia pun menemuinya dan berupaya meyakinkan agar mendapat living cost.
Dengan modal hanya mampu Bahasa Inggris, perempuan kelahiran Medan, 1 Mei 1983 ini tetap ber tekad ingin maju dan mengenyam pendidikan di luar negeri, yang ditanamkannya sejak kecil. Namun rintangan bukan hanya di situ saja. Setelah diterima, sang ibu melarangnya pergi ke Rusia. Dalihnya, terlalu jauh, bila ada sesuatu sulit untuk pulang atau ditemui. Kemudian, kedua orangtuanya ingin dia menikah terlebih dulu.
“Pekerjaan orang tua saya hanya seorang penjaga sekolah. Jadi, bila beasiswa macet, orang tua saya tidak punya uang untuk membantu. Tapi semua tak membuat saya mundur. Meski Rusia sangat identik dengan komunis. Apalagi, saat saya menyampaikan tentang keinginan saya dan baru satu tahun kemudian mendapat izin, walau dengan berat hati orang tua saya memberikan izin tersebut,” ungkapnya.

Usai menjalankan fase itu, pada Desember 2011 Ade pun terbang ke Moskow. Hanya saja, putri ketiga dari empat bersaudara ini, harus memecahkan masalah-masalah lain, yang semakin kompleks. Pertama tentang Bahasa Rusia, yang sama sekali tidak pahamnya, hingga dia harus menggunakan bahasa tubuh. Bahkan memilih lemari pakaian pun menggunakan bahasa tubuh. Jadi, tidak ada pilihan harus belajar dengan cepat. “Karena, ketika memilih Rusia, saya tidak pernah tahu dengan negara tersebut,” ujarnya.
Ketika semua persoalan tersebut berhasil dilalui dan setelah Ade berada di Moscow, setiap akan hendak bepergian, dia harus googling dulu. Apalagi, ejaan Bahasa Rusia itu berbeda. Nah, hal yang membuat Ade lebih harus berfikir keras, lantaran di tempatnya kuliah juga tak menggunakan bahasa Inggris. Alhasil, dia dipaksa belajar bahasa Rusia dengan sangat cepat.
“Tidak sebatas itu, saat masuk asrama saya hanya betah tiga bulan. Karena saya bertemu dengan orang yang sangat kasar. Bila sedang marah, apa pun dibanting, termasuk meja. Jadi, saya minta pindah ke kamar lain. Namun, saat pindah ke kamar lain, teman sekamar saya melakukan kumpul kebo. Mereka melakukan kegiatan seksual tak mengenal waktu. Pagi, siang, bahkan di pukul 03.00 dini hari pun melakukan aktivitas itu,” terangnya.
Ade pun sempat mengalami stres berat. Apalagi, ketika dia sedang solat, teman sekamarnya tak perduli. Mengaji guna mengingatkan temannya secara halus tak berhasil. Bahkan, ketika suaranya saat mengaji diperbesar, malahan pasangan itu mengeraskan suara mereka pula. Bukan tak pernah menjadu, namun respons kurang baik ia dapatkan. “Itu bukan masalah Anda. Jawaban itu yang saya dapat,” ujarnya.
Dari semua kondisi itu, akhirnya Ade hanya mampu bertahan satu tahun di kamar tersebut. Untuk kesekian kalinya ia pindah kamar. Kali ini dia justru bertemu dengan teman yang sangat jorok. Di bawah ambal di kamar ribuan kecoa hidup. Tak jarang saat sedang tidur ia dikerubuti kecoa. “Tahun pertama ya biaya hidup cukup lancar. Satu tahun berjalan, terhenti karena harus mendaftar ulang. Lama juga, sampai sembilan bulan. Hutang saya menumpuk di mana-mana. Kalau tidak berhutang saya tidak bisa bertahan,” katanya.

Solusi untuk menutupi itulah, Ade mencoba berjualan dan pilihannya jatuh pada menjual tempe. Namun, berjualan tempe bukan seperti menjual burger atau nugget, mengingat di Moscow tidak ada tempe. Ragi yang dia dapat, dari orang Indoensia yang membuat tempe di sana dan kebetulan hendak pulang ke tanah air. “Untuk mencari kedelai di sana ternyata cukup sulit. Saat bertanya di pasar apakah ada soya (kedelai) saya malah ditanya kembali, siapa soya. Setelah berkeliling, ternyata ada satu toko yang menjual kedelai. Dari sinilah saya mulai membuat tempe. Ilmu membuat tempe saya dapat dari kuliah dulu di UISU saat ambil S-1,” tuturnya.
Hasilnya lebih dari cukup. Berkat tempe pula Ade bisa bertahan, bahkan membiayai orangtuanya pergi haji. Saat ini kedua orangtuanya sudah teregister dan akan berangkat pada 2024 mendatang. Ternyata, kunci dalam menghadapi semua persoalan yang ada. Kembali kepada Allah SWT. Nasehat ini ia dapatkan dari ibunya saat mengadu akan ingin kembali ke Indonesia. “Saat mengadu dan ingin pulang malah saya kena marah. Kata ibu, dulu ia sudah melarang dan masih berkeras. Lalu saya diingatkan ibu untuk shalat dan rajin mengaji. Makanya saya setia hari shalat Dhuha, dan Tahajud,” ungkapnya.
Ade sempat diluputi kegalauan, pascamenyelesaikan kuliahnya pada 2014. Satu sisi dia sudah mendapat penghasilan besar dan kerja di skala internasional. Bila kembali ke Indonesia ia harus kembali mencari kerja dan levelnya pun jadi Nasional. Karena, dosennya sempat meminta dia tinggal di Rusia. Apa pun kebutuhan akan dipenuhi, semua fasilitas juga demikian. Bahkan ketika dikatakan ia ingin menikmati, sang profesor pun siap mencarikan suami. “Namun dengan bismillah semua tawaran saya tolak. Termasuk menjadi warga negara Rusia. saya mulai mengirimkan lamaran kerja ke Indonesia. Akhirnya mendapatkan pekerjaan sebagai staf ahli DPD RI Perwakilan Sulawesi Tengah Ahmad Syaifullah Malonda,” jelasnya.

Meski telah melewati berbagai persoalan di Moscow, ternyata tidak membuat Ade jera. Justru, dia ingin kembali ke Rusia untuk melanjutkan S3. Satu hal yang dia tekankan, dia ingin berbagi pengalaman kerasnya di Rusia dengan semua pemuda dan pemudi Indonesia. Atas dasar itulah, Ade menyusun buku ‘Merangkul Beruang Merah’. “Beruang Merah merupakan icon Rusia, hewan sangat ganas dengan cakar dan gigi tajam. Saya ingin pemuda dan pemudi Indonesia mampu melawan kemalasan dan ketakutan, dengan cakar dan taring kekuatan tekad dan keyakinan yang kuat. “Mudah-mudahan buku ini kelak bisa diangkat ke layar lebar. Biar semua bisa melawan kemalasan,” tutupnya. (ibr/tul)
















