PALEMBANG, fornews.co – Rumah Kapitan merupakan peninggalan dari Dinasti Ming dan Ching yang masuk ke Palembang sekitar tahun 1850. Komplek bangunan tua dengan corak arsitektur perpaduan Tionghoa-Melayu, itu kini dikembangkan sebagai salah satu destinasi wisata sejarah di Kota Pempek (Palembang).
Keberadaannya di tepi Sungai Musi tepatnya di Kelurahan 7 Ulu, Kecamatan Seberang Ulu (SU) II), serta tetap mempertahankan keasliannya, itu memiliki daya tarik tersendiri bagi wisatawan lokal dan manca negara. Bahkan, bangunan ini ternyata pernah ditawar oleh milyarder asal Brunei Darussalam seharga Rp250 miliar.
“Bangunan yang disebut orang rumah ini, adalah sebenarnya keraton. Ini pernah ditawar oleh pengusaha Brunei seharga Rp250 Miliyar,” kata pewaris atau Generasi ke-13 Rumah Kapitan, Mulyadi kepada fornews.co Jumat (15/02).
Diakuinya dengan adanya tawaran begitu besar, dirinya khawatir kalau bangunan tersebut ke depannya justru akan diperjual belikan. Karena, meski oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCG) Jambi, telah ditetapkan sebagai Cagar Budaya, tapi belum ada surat resminya.
“Ini yang menjadi kendala, meski sudah ada pengakuan dari Jambi, tapi belum memiliki surat resmi. Dikhawatirkan kalau tidak ada surat resmi nanti diperjual belikan,” tuturnya.
Selanjutnya kata Mulyadi, sebagai penerus yang diamanahkan oleh penerus sebelumnya, sampai harus berpisah dengan keluarga yang ada di Jakarta, demi merawat Rumah Kapitan. Tempat ibadah, perawatan pelaratan dan pengelolaan tata ruang rumah dilakukan dengan biaya sendiri.
“Ke depan, kami berharap ada surat resmi. Kalau ada surat resmi, minimal ada bantuan. Karena selama ini memakai dana pribadi dan sumbangan dari pengunjung,” ucapnya.
Perayaan Cap Go Meh

Menyambut Cap Go Meh 2019, Pemerintah Kota (Pemkot) Palembang, melalui Dinas Pariwisata, kembali merayakan di Kampung Kapiten sebagaimana perayaan serupa di tahun sebelumnya.
Pembukaan yang berlangsung di bagian garang atau teras Rumah Kapiten tersebut, di isi dengan berbagai kegiatan seperti peragaan busana pria dan wanita khas Tionghoa dan Melayu. Hal ini, bertujuan untuk semakin memviralkan Kampung Kapiten di kanca nasional dan internasional.
Momentum pulang kampung keturunan – keturunan Tionghoa yang berasal dari luar negri ke Palembang, dimanfaatkan untuk semakin mengenalkan budaya kota Palembang kemancanegara.
Kepala Dinas Pariwisata Kota Palembang, Isnaini Madani mengatakan bahwa menjadikan Kampung Kapiten sebagai destinasi wisata internasional bukan tanpa kendala, masih banyak pembenahan yang perlu dilakukan.
Menurutnya, masih banyak tempat-tempat di Kampung Kapiten yang perlu dibenahi. Selain dari pemerintah sambungnya, dibutuhkan juga pihak ketiga untuk menjadi pengelola.
“Ke depan semakin banyak yang hadir, dan melalui kegiatan ini sekaligus ngecek apa yang harus dibenahi. Semoga dapat membuka mata dunia dan mata pihak ketiga untuk berkerjasama sehingga kampung kapitan semakin viral,” ujarnya. (irs)

















