YOGYAKARTA, fornews.co -Berburu barang unik di Pasar Beringharjo tak cukup menghabiskan waktu sehari. Di sebelah utara pasar, lorong yang berbatasan langsung dengan dinding bangunan Beringharjo, dapat ditemui los-los klithikan sedari pagi hingga siang.
Nama Klithikan diambil dari kata “klithik” berasal dari suara benda keras besi yang beradu atau dijatuhkan. Barang-barang bekas berbahan besi atau suku cadang kendaraan yang masih berfungsi paling dicari penyuka modifikasi otomotif. Seiring berjalan waktu, klithikan tidak hanya menjual besi bekas dan suku cadang kendaraan, bahkan barang-barang bekas lain seperti kipas angin, jam tangan, walky talky, kaset, hingga kebutuhan bertani pun mudah ditemui.
Awalnya hanya satu atau dua lapak yang menjual barang bekas klitikan. Bertambahnya kebutuhan barang bekas di Jogja, sekitar tahun 90-an, di sepanjang Malioboro mulai Tugu Jogja hingga radius 500 meter ke selatan di Jalan Mangkubumi, mulai jam 17.00 WIB, deretan lapak-lapak barkas sudah siap melayani pembeli. Pasar Klithikan berdampak terhadap lingkungan. Sampah-sampah mengotori trotoar dan kumuh. Atas kebijakan Pemerintah setempat Pasar Klithikan dipindah ke Pasar Hewan Pakuncen, Wirobrajan, dibuatkan tempat khusus barang-barang bekas.
Bagi masyarakat Jogja yang terbiasa dengan tempat wisata, Pasar Klitikan menjadi alternatif tempat hiburan dan rekreasi murah meriah. Pemilik lapak berkas pun tidak keberatan barang dagangannya hanya sekadar dilihat-lihat pengunjung.

Winda (47) misalnya, warga Pojok Benteng Wetan (jokteng wetan) penjual barang unik di lorong utara Pasar Beringharjo, mengaku tidak terganggu dengan orang yang hanya melihat-lihat dan memegang barang jualannya. Bagi Winda itu hal yang wajar.
“Jualan di pasar sudah sepuluh tahun lebih,” kata Winda mengaku kepada fornews, Kamis (10/01).

Ia mematok harga terjangkau sesuai barang yang dijualnya. Di tempatnya harga bisa ditawar. Tapi tidak bagi pelanggan Winda, berapapun harganya selalu dibeli pelanggannya.
Andi (27) asli warga Rembang adalah pelanggan Winda. Di Jogja ia bekerja di salah satu perusahaan swasta. Siang itu ia mencari kerokan masuk angin.
“Daripada pake koin yang agak susah saya memilih benda ini sebagai kerokan,” katanya.
Selain terasa tidak kasar, sambung Andi, alat yang dibelinya juga awet. Tidak mudah hilang atau rusak.
Dalam sepekan tidak setiap hari ke pasar, hanya jika sedang membutuhkan barang yang dicarinya saja Andi bisa berlama-lama di Beringharjo.

Bergeser semakin ke dalam, samar-samar terdengar uyon-uyon Jawa dari radio tua milik Trisno Wiyadi. Usianya hampir 80 tahun. Jauh sebelum Pasar Beringharjo direvitalisasi, ia sudah membuka servis dan jual-beli jam tangan, kacamata serta radio lawas, sekitar pertengahan tahun 70-an.
Barang-barang koleksinya menarik perhatian siapapun yang melewati lapaknya. Kacamata lawas mirip milik Soekarno dan Hatta, blitz kamera, uang logam dan kertas kuno, atau kaset-kaset pita sebelum termakan jaman pun dipajang dilapak.
“Sedang menservis kacamata,” katanya.
Beberapa kali fornews ke Beringharjo, Trisno selalu terlihat sibuk dengan pekerjaannya sambil mendengar uyon-uyon di radio jadulnya. Bisa dipastikan satu-satunya yang berjualan kacamata dan kaset-kaset jadul di Beringharjo hanya Trisno. Sedangkan yang lain, di klithikan, hanya mengikuti jejak Trisno sebagai penjual berkas. Sudah pernah ke Beringharjo?
PENULIS: A.S. ADAM
















