YOGYA, fornews.co – Bregada telah ada sejak masa raja terbesar Mataram di tanah Jawa, Sultan Agung.
Silih bergantinya raja Mataram di Yogyakarta semakin menghapus kekuatan dan fungsi bregada yang pernah tangguh dan kuat memerangi penjajah.
Di masa Sri Sultan Hamengku Buwono bregada Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat hanya tersisa sepuluh kelompok pasukan.
Baca: Bregada Kembali Diaktifkan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IX
Dikutip fornews.co dari kratonjogja.id saat ini jumlah seluruh prajurit hanya 600 orang. Setiap bgerada hanya berisi 30-64 orang. Setiap bregada dipimpin Kommandhan Wadana Hageng.
Kommandhan Wadana Hageng juga disebut Manggalayudha mengawasi bertanggung jawab penuh terhadap keseluruhan pasukan.
Dalam memimpin barisan prajurit, Manggalayudha dibantu oleh Bupati Enem Wadana Prajurit yang bertugas menjadi Kapten Parentah (Pandhega).
Baca: Lestarikan Seni dan Budaya Yogya, Gebyar UMKM Kemantren Ngampilan Hadirkan Bregada Keprajuritan
Tiap-tiap bregada atau barisan pasukan dipimpin oleh perwira berpangkat kapten kecuali bregada Bugis dan Surakarasa.
Khusus bregada Bugis dan Surakarsa dipimpin oleh seorang Wedana.
Seorang pandhega akan didampingi oleh perwira dengan sebutan Panji (lurah) yang bertugas mengatur dan memerintah keseluruhan prajurit dalam bregada.
Seorang Panji akan didampingi Wakil Panji dan regu-regu dalam bregada dipimpin oleh seorang bintara berpangkat sersan.
Seluruh perwira dalam tiap-tiap bregada dipimpin oleh Pandhega kecuali bregada Wirabraja dan Matrijero.
Bregada Wirabraja dan Matrijero berada di bawah perintah kommandhan.
Bregada karaton terbagi menjadi tiga kelompok yaitu prajurit inti Karaton, prajurit khusus mengawal putra mahkota, dan prajurit pangremba.
Namun, di masa Sri Sultan Hamengku Buwono, bregada Karaton Yogyakarta yang dibagi tiga kelompok fungsi dan penempatannya berbeda dari sebelumnya.
Ketiga kelompok adalah bregada Bugis untuk Kepatihan, bregada Surakarsa untuk Kadipaten Anom dan sisanya untuk Karaton Yogyakarta.
Bregada Bugis
Saat ini bregada Bugis tidak lagi terdiri dari orang-orang Bugis meski awal mula bregada ini berasal dari Bugis, Sulawesi.
Tugas bregada Bugis menjadi pengawal gunungan yang dibawa menuju Kepatihan.
Bregada Bugis terdiri dari prajurit bersenjata tombak dengan tombak pusaka bernama Kanjeng Kiai Trisula.
Pada saat berjalan bregada Bugis diiringi dengan Gendhing Sandung Liwung.
Bregada Surakarsa
Surakarsa berarti prajurit yang berani mati demi keselamatan Adipati Anom sebagai Putra Mahkota.
Bregada Surakarsa berasal dari kata sura dan karsa. Kata sura berarti berani sedangkan kata karsa berarti kehendak.
Bregada Surakarsa bertugas menjadi pengawal gunungan yang dibawa ke Masjid Gedhe Kauman.
Bregada ini dilengkapi dengan senjata tombak dengan tombak pusaka bernama Kanjeng Kiai Nenggala.
Pada saat berjalan bregada Bugis diiringi dengan Gendhing Plangkenan.
Setiap prajurit dan abdi dalem karaton selalu nyawiji, greget, sengguh ora mingkuh, sehingga berwatak kesatria.
Tidak akan mundur setapak pun meski dalam perjalanan menuju tujuan harus menghadapi berbagai halangan.
Sawiji, greget, sengguh ora mingkuh menjadi landasan dalam membentuk watak kesatria yang mengabdi kepada nusa, bangsa, dan negara.
Setiap prajurit dan abdi dalem karaton memiliki watak luhur berdasar idealisme dan komitmen atas kebenaran dan keadilan yang tinggi, integritas moral, serta nurani yang bersih. (adam)
















