
PALEMBANG, fornews.co – Aksi terorisme dan paham radikal, disepakati menjadi musuh bersama. Setiap elemen masyarakat, didorong untuk berperan aktif menyosialisasikan atau mengkampanyekan akan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Teroris dan paham radikal dianggap sebagai sandungan yang akan memecah belah kebinekaan dalam NKRI.
Mahasiswa dan akademisi Fakultas Teknik (FT) Universitas Sriwijaya, bertekad mendukung Kepolisian untuk memerangi radikalisme dan terorisme. Mereka mendeklarasikan diri sebagai bentuk komitmen mereka memerangi teroris dan penganut paham radikal.
Kapolda Sumsel, Irjen Pol Agung Budi Maryoto mengapresiasi atas deklarasi yang disampaikan mahasiswa dan akademisi Fakultas Teknik Universitas Sriwijaya. Apalagi deklarasi itu dilakukan demi menjaga keamanan dan keutuhan bangsa Indonesia.
“Bertemu dengan civitas akademika di Sumsel, adalah strategi kami untuk menyosialisasikan upaya menjaga keutuhan NKRI. Ada banyak kejadian di luar sana yang berusaha memecah belah bangsa kita, terutama melalui kecanggihan teknologi, semua pihak semua elemen dan semua lapisan harus hati-hati,” ujar Agung saat mengisi kuliah umum bagi mahasiswa di Kampus Unsri Indralaya, Rabu (02/08).
Menurut Kapolda, men-share berita-berita yang belum tentu kebenarannya ini dianggap bagian dari kejahatan. Sebab hal itu yang dapat memicu perpecahan. Begitupun dengan ajakan-ajakan yang mengarah pada terorisme, setiap individu harus bijak dan sama-sama menjauhi hal itu. Bila ada di sekitar lingkungannya, bisa segera melapor ke kepolisian terdekat.
“Dukungan perangi terorisme ini sangat luar biasa bagi kami. Keutuhan NKRI harus dijaga, jangan dibuat compang-camping,” serunya.
Lanjut Agung, terorisme sangat berpotensi mudah masuk ke Indonesia. Karena ia menilai, banyak pihak yang tidak menyadari keberagaman. “Terorisme dan radikalisme itu harus ditindak tegas. Keduanya tidak akan muncul apabila kita memiliki rasa toleransi. Upaya yang harus kita lakukan adalah mencegah intoleransi itu muncul. Kita harus menyadari bahwa Indonesia miliki keberagaman dalam berbagai hal. Keberagaman itu sangat indah,” jelas Agung.
Lalu peranan mahasiswa, kata dia, dalam hal ini sangat kuat. Mahasiswa harus mampu menciptakan pola pikir yang positif, rasional dan logis, serta kritis untuk hal-hal seperti itu. “Tantangan tentu akan terus ada. Kita harus bisa menjaga keamanan di negara kita dan daerah kita. Peran mahasiswa disini adalah menjadi agen pembaharuan yang dapat menciptakan kondisi ekonomi yang lancar, stabitas politik dan keamanan,” pungkasnya.
Gubernur FT Unsri, Roben Syahputra menyampaikan, dalam deklarasi itu ada 6 hal yang menjadi isu utama yang diangkat dalam mengantisipasi masuknya terorisme dan radikalisme. Adapun poin pertama yakni, menjalankan empat pilar kebangsaan yaitu Pancasila, UUD 1945, Bhineka Tunggal Ika dan NKRI sebagai pedoman dalam berbangsa dan bernegara.
Kedua, mencegah berkembangnya segala bentuk ekstrimisme, radikalisme, dan terorisme yang dapat mengancam ideologi Pancasila dan keutuhan NKRI. Ketiga, mendukung setiap langkah Kapolda Sumsel untuk menindaktegas setiap pelaku gangguan kamtibmas dan gangguan keamanan yang mengatasnamakan SARA.
Keempat, mengamalkan ajaran Islam sesuai teladan Nabi Muhammad SAW beserta para sahabatnya dan ulama yang mengikutinya. Kelima, melaksanakan nilai-nilai Pancasila dan UUD 1945 dalam seluruh kegiatan Tridharma. Terakhir, belajar dengan giat untuk menambah ilmu pengetahuan dan meningkatkan kompetensi yang relevan dan bermanfaat bagi bangsa dan negara RI.
“Ini dibuat oleh semua mahasiswa Fakultas Teknik. Baik dari Teknik Sipil, Teknik Kimia, Teknik Pertambangan, Teknik Mesin, Teknik Arsitektur dan Teknik Geologi. Sesuai dengan isi deklarasi, ini akan kami amalkan. Kamu akan mendukung Polri dalam memerangi semua bentuk kejahatan, terutama radikalisme dan terorisme,” tandasnya. (bay)
















