YOGYAKARTA, fornews.co – Upaya mengangkat kiprah komunitas lintas seni dan budaya menjadi penting, karena telah turut mewarnai dinamika sosial khususnya di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
Di sisi lain, keberadaan mereka selama ini relatif di bawah permukaan, kurang mendapatkan ruang dan praktis bergerak tanpa campur tangan pemerintah. Aktivitas mereka dijalankan dengan modal keswadayaan dan kerelawanan para penggiatnya.
Merespon temu lintas komunitas budaya di Yogyakarta, Pokja Penguatan Lembaga Pengelola dan Pelestari Warisan Budaya Dinas Kebudayaan DIY, akan menggelar “Festival Jogja Gumregah 2017”, Jumat, 24 November 2017 pukul 09.00 WIB- 22.00 WIB di Sanggarbambu Tempuran Tamantirto Kasihan Bantul Yogyakarta.
Ketua Penyelenggara Widihasto Wasana Putra mengatakan, acara yang diselenggarakan ini merupakan salah satu peristiwa besar di Yogyakarta, karena melibatkan puluhan komunitas budaya lintas bidang. “Ini menjadi salah satu peristiwa besar, memiliki peran nyata sekaligus memberikan kemanfaatan bagi masyarakat,” ujarnya, Selasa (21/11) sore.
Dipilihnya Sanggarbambu sebagai lokasi “Srawung Jogja” atau pertemua pegiat seni budaya di Jogja, lanjut Hasto, karena selain eksostis, dari Sanggarbambu lahir tokoh-tokoh seni dan budaya yang konsisten menggerakkan dinamika kebudayaan di Indonesia, khsususnya di Yogyakarta.
Bangunan rumah joglo tua yang sengaja dibiarkan tanpa dinding itu berada di tepian pertemuan (tempuran) dua sungai bersejarah: Bedog dan Kalibayem, dipenuhi rerimbunan pohon yang asri. “Ini juga bentuk penghormatan kepada para penggiat di Sanggarbambu sebagai komunitas seniman tertua yang berdiri sejak tahun 1959,” kata Hasto.

Ia berharap, “Srawung Jogja” dapat memperkokoh jejaring di antara simpul komunitas masyarakat dan mendorong eksistensi komunitas agar terhubung dengan pengambil kebijakan serta sebagai upaya mengimplementasi nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sosial.
Srawung Jogja sebagai semangat Jogja Gumregah merupakan wujud saiyeg saeko kapti nyawiji golong gilig tekad semangat bersama membangun Jogja Istimewa.
“Sanggarbambu merupakan sebuah komunitas yang cukup tua, bisa jadi sebuah komunitas yang disebut simbahnya komunitas,” kata Totok Buchori, Ketua Sanggarbambu, perupa Indonesia.
Sanggarbambu merupakan tempat pertemuan dan medan persahabatan. Tentu saja menjadi sebab mengapa Sanggarbambu dipilih menjadi tempat temu lintas budaya. “Sebagai tuan rumah maka kami segenap keluarga besar Sanggarbambu berupaya memberikan yang terbaik bagi semua komunitas yang hadir,” ucapnya.
Kepada wartawan melalui whatsapp, Selasa (21/11) malam, Totok mengatakan, tidak salah jika pihak penyelenggara mengadakan acara di Sanggarbambu, bahkan mengajak terlibat dalam kepanitiaan Srawung Jogja. Setiap komunitas yang hadir tentu akan saling bertukar pengalaman dan membawa kesan baik.
“Sanggarbambu cukup tua mas. Banyak pengalaman berkesenian. Sanggar tempat netral, mandiri dan tidak punya pretensi berlebihan. Hanya ingin ikut juga andil dalam menumbuhkan karakter bangsa yg berbudaya,” jelasnya
“Semoga Sanggarbambu menjadi oksigen segar bagi komunitas yang akan berekspresi. Selamat datang di Sanggarbambu dan selamat berkarya,” imbuhnya.
Srawung Jogja yang bakal berlangsung dalam tiga sesi menampilkan Paguyuban Kembang Adas, Omah Kebon, Jogja Akting Studio, Wiwik Pungki Art Fashion, Komunitas Istimewa Kreatif, Sanggar Anak Alam, Sastra Kanjeng, Senja Bersastra di Malioboro, Singir Kembaran dan musik thek-thek, Jogja Chinese and Art Culture Centre, Bregada Winata Manggala, Paseduluran Angkringan Silat, pentas biola dari Sekolah Musik Alam asuhan Ucok Hutabarat, Omah Cangkem Pardiman Djoyonegoro dan penampilan sejumlah seniman senior seperti Whani Darmawan, Untung Basuki, Liek Suyanto, Otok Bima Sidarta, dan Talkshow dipandu oleh presenter tivi Azzam Sauki Adham.
Acara ini diselenggarakan untuk warga Indonesia di Yogyakarta agar turut hadir dan terlibat dalam interaksi sosial dalam gelaran Srawung Jogja di Sanggarbambu.
Bagi pegiat peduli lingkungan, Srawung Jogja akan berbagi cerita dan pengalaman menggerakkan masyarakat bersama Komunitas Reresik Sampah Visual, Ketjil Bergerak, Jogja Nyah Nyoh, Jogja Berkebun, Rumah Garuda, Radio Buku, Gerak Pancasila dan Komunitas Pemerhati Sungai. (AS Adam)
















