YOGYAKARTA, fornews.co—Hajad Kawula Dalem Lampah Budaya Mubeng Beteng pergantian Tahun Baru Jawa 1 Sura Jimakir 1954 tahun ini ditiadakan.
Hal ini sebagai upaya antisipasi penyebaran virus corona (Covid-19) sekaligus mentaati imbauan dari pemerintah menerapkan protokol kesehatan.
Meski ditiadakan, sebagai penggantinya rencana akan digelar doa bersama di sekitar Bangsal Ponconiti Keben Karaton Yogyakarta, pada Kamis, 20 Agustus 2020, pukul 21.30 WIB.
Pengageng Tepas Dwarapura, Karaton Ngayogyakarta, KRT Jatiningrat, mengatakan Lampah Budaya Mubeng Beteng dengan berjalan mengelilingi beteng Karaton bukan atas perintah Raja Karaton Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X.
Pengageng Tepas Dwarapura yang akrab disapa Romo Tirun menjelaskan, bahwa ritual Lampah Budaya Mubeng Beteng tanpa berbicara yang diikuti oleh ribuan orang itu merupakan inisiatif dari para abdi dalem sendiri.
“Ditiadakan karena pandemi virus corona (Covid-19),” katanya.
Menurut Romo Tirun, jika Lampah Budaya Mubeng Beteng yang biasa disebut “Tapa Bisu” digelar justru berbahaya karena akan terjadi kerumunan.
Selain itu, akan banyak sekali orang yang bergabung dalam ritual yang biasa dilakukan setiap pergantian Tahun Baru malam 1 Sura.
Sama seperti tahun-tahun sebelumnya, ritual “Tapa Bisu” mubeng beteng juga selalu diikuti oleh wisatawan yang berkunjung ke Yogyakarta. Kekhawatiran ini yang diantisipasi agar tidak terjadi kerumunan massa.
“Sangat beresiko jika melibatkan banyak orang,” kata Romo Tirun.
Perlu diketahui, mubeng beteng merupakan lampah budaya. Sebagai sarana masyarakat melakukan introspeksi atas apa yang terjadi di tahun lalu sembari memohon kepada Yang Maha Kuasa agar tahun yang akan datang lebih baik dari pada tahun kemarin.
Sebelum berjalan “Tapa Bisu” mengelilingi karaton sejauh 5 kilometer, semua orang berkumpul di sekitar Bangsal Ponconiti Keben Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat mendengarkan macapatan.
Menjelang pemberangkatan, biasanya dilakukan penyerahan dwaja (bendera) terdiri dari bendera Merah Putih, bendera Gula Klapa (bendera Kasultanan), dan klebet Budi Wadu Praja (DI Yogyakarta).
Selain itu, juga disertakan penyerahan lima bendera yang merepresentasikan kabupaten dan kota madya, yakni klebet Bangun Tolak (Yogyakarta), Mega Ngampak (Sleman), Podang Ngisep Sari (Gunung Kidul), Pandan Binetot (Bantul), dan Pareanom (Kulon Progo).
Tepat pukul 24.00, ditandai dengan bunyi lonceng Kamandhungan Lor sebanyak 12 kali, rombongan mulai berangkat.
Para Abdi Dalem pembawa bendera berada di barisan depan diikuti para Abdi Dalem lain dan masyarakat umum.
Tidak hanya masyarakat di Yogyakarta, peserta mubeng beteng juga diikuti oleh masyarakat dari kota lain maupun mancanegara.
Rute yang ditempuh dimulai dari Kamandhungan Lor (keben kraton), Jalan Kauman, Jalan Agus Salim, Jalan Wahid Hasyim, Ngabean, Pojok Beteng Kulon, Plengkung Gading, Pojok Beteng Wetan, jalan Ibu Ruswo, Alun-Alun Utara, lalu kembali lagi ke Kamandhungan Lor sekitar di Bangsal Ponconiti Keben Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat. (adam)

















