Penulis: A.S. Adam
DARI Kota Yogyakarta saya menuju Terminal Ngeplang, di Sentolo, Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Dari terminal kecil ini, Kamis (9/5/2019), saya memulai perjalanan ke Candi Borobudur sekitar jam tujuh pagi menggunakan kendaraan roda dua.
Dahulu Sentolo merupakan Ibu Kota Kulon Progo. Itu sebelum Sentolo digabungkan dengan Adikarto. Setelah Ibu Kota berpindah ke Wates, Sentolo dirubah menjadi Kecamatan, sampai sekarang.
Terminal Ngeplang berada di simpang tiga jalan antarprovinsi, tepatnya di sebelah utara Jalan Raya Purworejo-Jogja. Tak jauh dari terminal, terdapat sebuah Markas Brimob yang berada di sebelah selatan Jalan Raya Wates. Di pertigaan jalan ini padat kendaraan. Terminal ini pernah ramai, menjadi pusat transit antardaerah di DIY.

Perjalanan ke Borobudur
SEBELUM memulai perjalanan sebaiknya kendaraan diservis terlebih dahulu. Periksa mesin dan oli. Sebab perjalanan menggunakan kendaraan roda dua memakan waktu lebih dari sejam. Jalan berkelok-kelok dengan turunan tajam butuh keahlian menguasai kendaraan. Jika tak lihai kendaraan bisa keok.
Berbeda jika menggunakan mobil. Perjalanan bisa kurang dari sejam. Itu pun jika lalu lintas tidak macet. Tapi tetap saja harus ahli menguasai kendaraan. Terlebih bagi pengendara atau sopir yang belum tahu medan jalan ke Borobudur lewat jalur ini.
Melewati Jalan Raya Sentolo-Nanggulan akan disuguhi pemandangan menawan yang tidak temukan di perkotaan. Hamparan sawah hijau berlatar belakang Gunung Merapi, Merbabu, dan Sindoro, samar berkabut. Persis lukisan. Sangat cantik. Begitu pun di sebelah barat jalan raya, di bawah langit membiru, pegunungan Menoreh membentang panjang hingga ujung Kali Progo.


Beberapa waktu kemudian perjalanan saya sampai di perempatan Jalan Raya Purboyo-Ngentak. Jika belok kiri dari arah terminal Ngeplang akan menjumpai pasar tradisional Kenteng. Arah jalan ini juga menuju ke Goa Kiskendo. Sedangkan jika belok kanan menuju arah Godean, dan ke pusat Kota Yogyakarta.
Nah, bagi pecinta kuliner, di sekitar daerah ini dapat ditemui aneka masakan khas ndeso mulai dari olahan belut, iwak kali, daging kambing, hingga jadah tempe yang berada di seberang timur jembatan Ngapak Kali Progo.
Selama perjalanan saya menjumpai pasar-pasar tradisional yang masih terjaga dari pengaruh hedonisme dan konsumerisme. Gaya bangunan pasarnya pun tidak semegah pasar-pasar di kota. Di sini justru tampak kesederhanaan dan kesahajaan masyarakatnya yang kental mewarisi budaya Jawa. Pasar-pasar di sini punya daya tarik tersendiri untuk didokumentasikan dalam bentuk tulisan maupun gambar.
Meski dengan peralatan terbatas, dan tidak semua pasar dapat didokumentasikan dalam bentuk gambar, paling tidak tulisan ini dapat sekilas menggambarkan apa-apa yang saya lihat.

Melesat di Jalan Raya Nanggulan-Mendut, saya melewati sebuah jembatan yang disebelahnya terdapat semacam jembatan bangunan lama mirip peninggalan kolonial. Pada bagian penyangga jembatan terlihat lapuk. Batu batanya keropos. Meski begitu tetap saja terlihat kokoh. Kata orang jembatan itu berdiri sejak jaman Belanda. Untuk dapat mengetahui sejarah jembatan itu tentu saja harus menemui sejumlah ahli sejarah. Atau menemui orang tua yang pernah mengalami pembangunan jembatan tersebut.
Setelah melewati Nanggulan dan Dekso, saya menyempatkan diri beristirahat beberapa menit di rest area Pasar Bendo. Tempat ini hanya berjarak kurang dari dua kilometer dari simpang tiga Pasar Jagalan di Klangon.
Di tempat ini bisa melemaskan otot yang tegang karena berkendara. Tapi jangan terlena dengan kesejukan alamnya, bisa-bisa malas beranjak dan tertidur pulas.
Berjarak beberapa meter dari rest area juga terdapat akses jalan menuju puncak Suroloyo. Sebuah tempat di ketinggian lebih dari 1000 mdpl yang dikenal dengan legenda kisah Raden Mas Rangsang kelak menjadi penguasa di tanah Jawa bergelar Sultan Agung Hanyokrokusumo.
Dari puncak Suroloyo, kata masyarakat Kalibawang, kita bisa melihat gunung-gunung di Jawa dengan jelas. Merapi, Merbabu, Sindoro, Sumbing, dan gunung-gunung pendek seperti Gunung Andong dan Telomoyo pun terlihat.
Ikuti juga fornews.co di instagram

















