Penulis: A.S. Adam
BEBERAPA menit kemudian saya mendapati simpang tiga pasar Jagalan di Klangon, Banjaroya. Saya sempat menanyakan nama daerah dan arah ke Borobudur kepada seorang warga.
“Kalo lurus ke arah Muntilan, kalo belok kiri—lurus—sampai Borobudur,” katanya.
Pasar Jagalan merupakan sebuah pasar tradisional yang terletak di Desa Banjaroya, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Daerah ini berbatasan langsung dengan wilayah Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.
Baca: Jalur Lain ke Borobudur #3
Desa Banjaroya berada di ketinggian 650 mdpl. Sebagian besar wilayah Desa ini merupakan pegunungan—termasuk dalam deretan Pegunungan Menoreh.
Jalan ini sempat menjadi penghubung alternatif kedua wilayah Yogyakarta-Magelang pada erupsi Gunung Merapi tahun 2010 silam.
“Benar, ini Klangon,” ujar seorang warga yang sibuk mengarahkan kendaraan ke pasar Jagalan.
Tidak perlu buru-buru, hanya butuh kehati-hatian. Jalan alternatif menuju Borobudur ini berada di perbukitan mengikuti alur Kali Progo yang sewaktu-waktu dapat terjadi longsor.

Dari perbatasan, di sebelah kanan jalan adalah jurang yang menjorok ke Kali Progo. Saya tidak melihat pohon-pohon berakar besar dan kuat. Rata-rata hanya pohon biasa. Melihat kontur tanahnya, seyogianya pemerintah setempat memikirkan cara agar jalan alternatif ke Borobudur ini tetap terjaga. Minimal melaukan antisipasi sejak dini jika sewaktu-waktu terjadi pergerakan tanah yang ekstrim. Atau, hujan lebat yang terus-menerus mengguyur daerah tersebut.
Ini jalur terdekat menuju Borobudur. Dari perbatasan di Banjaroya ke Borobudur menempuh jarak sekitar 10,5 kilometer. Untuk sampai ke candi, dari perbatasan normalnya butuh waktu kurang dari 25 menit.


Jika sudah melewati Jalan Candirejo dan bertemu simpang jalan Balaputradewa, pertanda candi sudah semakin dekat. Suasana pagi ini tidak seramai sebelum masuk bulan puasa. Sebagian toko dan warung yang berderet di sepanjang jalan masih belum buka. Bahkan restoran dan penginapan. Namun pada hari liburan, wisatawan dengan mudah mendapatkan keperluan selama berkunjung di Borobudur.
Perlu diketahui, di Kecamatan Borobudur terdapat 20 Balkondes. Balai Ekonomi Desa biasa disebut ‘Balkondes’ merupakan proyek pengembangan desa wisata garapan Kementerian BUMN. Ini menjadi unggulan pariwisata di kecamatan tersebut.

Akhirnya, siang hari saya sampai di Borobudur. Saya benar-benar menikmati perjalanan bersepeda motor. Hanya berkecepatan kurang dari 60 km/jam. Sayang melewatkan pemandangan indah selama perjalanan.
Meskipun masuk hari kelima puasa di Bulan Ramadan, tempat wisata ini tetap saja ramai dikunjungi. Wisatawan yang datang ke tempat ini didominasi dari mancanegara. Wisatawan domestik hanya terlihat sedikit. Lainnya warga hanya lokal sekitar Yogyakarta dan Magelang.
Angkutan Umum
BAGI yang ingin berkunjung ke Borobudur, pihak YIA bekerja sama dengan Perum Damri memudahkan perjalanan menggunakan angkutan umum.
Sejumlah armada Damri dikerahkan dengan route berbeda. Untuk tujuan YIA-Borobudur/Magelang dikenai tarif Rp 75.000. YIA-Kebumen Rp 50.000. YIA-Purworejo Rp 20.000. Sedangkan YIA-Bandara Adisutjipto dikenai tarif Rp 40.000.
“Kita (Damri) bahkan sampai masuk ke area parkir Borobudur, karena kita bekerja sama dengan TWC (PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan, Ratu Boko),” kata Manajer Usaha Perusahaan Umum Cabang DIY, Eka Hadi Santosa, diberitakan Kompas, Selasa (7/5/2019).
Baca: Jalur Lain ke Borobudur #1
Di pintu keluar kedatangan, Damri juga membuka layanan konter pembelian tiket bagi penumpang pesawat yang hendak meneruskan perjalanan via darat ke Borobudur dan beberapa kota lain di Yogyakarta.
Damri juga melayani perjalanan dari YIA ke stasiun kereta api. Tarifnya pun menyesuaikan jarak tujuan. Rata-rata tarifnya kurang dari Rp 20.000.
Ikuti juga fornews.co di instagram

















