JOGJA, fornews.co — Pemerintah Kota Jogja kembali menggelar Jogjavaganza 2026 sebagai ruang temu antara pelaku industri pariwisata dan pasar, dengan pendekatan yang tidak hanya berorientasi pada angka kunjungan, tetapi juga pada kualitas pengalaman dan keberlanjutan relasi bisnis.
Wakil Wali Kota Jogja, Wawan Harmawan, menegaskan bahwa pertemuan ini bukan hanya seremoni pembuka, melainkan investasi sosial bagi penguatan citra kota.
“Pertemuan ini penting untuk membangun kepercayaan. Kami ingin para mitra tidak hanya mengenal produk wisata, tetapi juga merasakan langsung karakter pelayanan Jogjakarta,” ujarnya.
Ia menilai, promosi pariwisata saat ini perlu bergerak dari pendekatan transaksional menuju relasi jangka panjang.
Karena itu, Pemerintah Kota mendorong penguatan program Jogja Kota Festival serta pengembangan titik-titik wisata baru yang memberi pengalaman lebih beragam bagi wisatawan.
Kegiatan dibuka melalui Welcome Dinner di The Malioboro Hotel Conference Center pada Senin kemarin, 13 April, yang mempertemukan 50 buyer dan 48 seller dari berbagai wilayah Indonesia.
Forum ini dirancang sebagai titik awal dialog, tempat pelaku usaha saling memahami kebutuhan pasar sekaligus menyusun kemungkinan kerja sama yang lebih konkret.
Jogjavaganza 2026 berlangsung pada 13–16 April dengan rangkaian kegiatan yang mencakup Welcome Dinner, Table Top di Hotel TARA Jogjakarta pada 14 April, dan Famtrip pada 15 April yang melibatkan agen perjalanan dari berbagai daerah.
Melalui Jogjavaganza 2026, Pemerintah Kota Jogjakarta berupaya menempatkan promosi wisata sebagai proses yang lebih reflektif menghubungkan identitas lokal, kebutuhan pasar, dan distribusi manfaat ekonomi secara lebih seimbang.
Pendekatan ini diharapkan mampu memperkuat posisi Jogjakarta sebagai destinasi yang tidak hanya menarik untuk dikunjungi, tetapi juga relevan untuk dipasarkan secara berkelanjutan.
Kepala Dinas Pariwisata Kota Jogja, Lucia Daning Krisnawati, menjelaskan bahwa Table Top menjadi inti dari pertemuan bisnis yang memungkinkan interaksi langsung antarpelaku industri.
“Di sinilah negosiasi dan penyesuaian produk terjadi. Kami mendorong pelaku usaha untuk tidak hanya menawarkan paket, tetapi juga merancang pengalaman yang relevan dengan kebutuhan pasar saat ini,” katanya.
Ia juga menyoroti pentingnya integrasi kampung wisata ke dalam ekosistem pariwisata kota. Dengan 46 kampung wisata dan 45 Pokdarwis, pemerintah berupaya memastikan bahwa manfaat ekonomi tidak terpusat di sektor tertentu saja.
“Kampung wisata harus menjadi bagian dari paket yang ditawarkan. Kolaborasi dengan hotel dan biro perjalanan akan membuka distribusi manfaat yang lebih merata,” tambahnya.
Ketua Panitia Jogjavaganza 2026, Sanny Pratomo, menyebut kehadiran buyer dari berbagai daerah sebagai peluang strategis untuk memperluas jangkauan pasar.
“Para buyer ini membawa akses ke jaringan wisatawan yang lebih luas. Jika kerja sama yang terbangun kuat, dampaknya akan terasa langsung pada peningkatan aktivitas ekonomi pariwisata,” jelasnya.
Menurutnya, keberhasilan kegiatan ini tidak hanya diukur dari jumlah transaksi yang tercapai selama acara, tetapi juga dari keberlanjutan komunikasi bisnis setelahnya.
“Kami berharap hubungan yang terbentuk tidak berhenti di sini, melainkan berkembang menjadi kemitraan jangka panjang yang saling menguatkan,” ujarnya.

















