
SEKAYU, fornews.co-Debat publik terbuka pertama pasangan calon (paslon) Bupati dan Wakil Bupati Muba, Dodi Reza Alex-Beni Hernedi dan Amiri Arifin-Ahmad Toha, di Gedung Wanita Sekayu, Senin (16/01) malam, cukup membuat hidup suasana persaingan dua kubu.
Ini terlihat dari bagaimana karakter pendukung dari masing-masing paslon, dan cara kedua paslon menjawab semua pertanyaan yang dilontarkan ketiga panelis. Sebelum debat dimulai sang moderator Ardiyan Saptawan, sudah terlihat pendukung dari Amiri Arifin-Ahmad Toha begitu semangat.
Bahkan, suara celetukan-celutukan kecil dari pendukung Amiri-Ahmad Toha, mengharuskan moderator berkali-kali menyarankan pendukung tersebut untuk lebih tenang. Berbeda dengan pendukung Dodi Reza Alex-Beni Hernedi, yang lebih tenang dan kalem.
Dari setiap pertanyaan yang diajukan tiga panelis, masing-masing dari Prof Didik Susetyo (pakar ekonomi Sumsel), Dr Febrian (pakar hukum Sumsel) dan Drs. Joko Siswanto M.Si (pakar politik dan pemerintahan), kedua paslon selalu memberi jawaban yang berbeda. Salah satunya, ketika Prof Didik Susetyo bertanya apa upaya atau program strategis dari masing-masing paslon untuk meningkatkan pendapatan daerah.
Paslon nomor urut 1 Dodi Reza Alex-Beni Hernedi memaparkan, bahwa Kabupaten Muba banyak perkebunan sawit dan karet. Namun, karena dampak dari harga pasar dunia, maka para petani karet dan sawit ikut berimbas. “Maka kami akan melakukan hilirisasi perkebunan,” ujarnya.
Selanjutnya disambung Beni Hernedi, dimana penyaluran rantai distribusi karet di Muba terlalu panjang. “Jadi rantai distribusi tersebut harus dipotong, agar harga yang diterima masyarakat tidak terlalu kecil,” sambungnya.
Sementara, Amiri Arifin menjawab, jalan-jalan produksi di Muba harus diperbaiki, serta pemerintah harus cepat tanggap. “Kalau jalan bagus, maka produksi masyarakat akan lebih cepat terjual,” katanya.
Namun, pada setiap pertanyaan demi pertanyaan yang dilayangkan panelis, lagi-lagi pendukung Amiri Arifin-Ahmad Toha selalu bersuara. Begitu juga, saat masuk sesi tanya jawab, moderator tak henti-henti meminta agar suara dari pendukung Amiri Arifin untuk lebih tenang.
Pertanyaan yang diajukan tiga panelis secara bergantian, yakni terkait bagaimana langkah-langkah dari masing-masing paslon untuk mewujudkan birokrasi bersih, pemahaman paslon terhadap keadilan berusaha, perbaikan infrastruktur, konsep menghilangkan penyakit KDRT, hingga bagaimana menerapkan satgas saber pungli di tingkat kabupaten.
Namun, meski suasana pendukung dari kedua paslon terlihat cukup menampakkan aroma persaingan, tapi saat debat terbuka malam ini selesai, kedua paslon tetap menunjukkan sikap kebersamaan. (tul)
















