YOGYA, fornews.co – Kiai Sujak seorang tokoh ulama yang berkonsepsi sociopreneur dan entrepreneurship telah melahirkan ribuan rumah sakit PKU Muhammadiyah di Indonesia. Secara pendek oleh kapitalis ditafsirkan sebagai pencari keuntungan.
“Hal itu sangat bertentangan dengan Muhammadiyah yang berorientasi kepada kemanfaatan,” sanggah Ahmad Syauqi Suratno saat memberikan motivasi dalam Silaturahim Amil se-DIY, Senin lalu, di UAD Yogya.
Baca: Himpun 125 Miliar Bukti Kepercayaan Masyarakat terhadap Lazizmu
Ia menceritakan kisah Kiai Sujak yang tidak pernah menolak uang sumbangan yang kemudian dikelola untuk kemaslahatan umat.
Uang sumbangan itu dibuatkan klinik dan rumah sakit yang menjadi awal berdirinya PKU hingga lebih dari ratusan jumlahnya.
PKU yang dikelola oleh Persyarikatan Muhammadiyah pada waktu itu menjadi satu-satunya klinik dan rumah sakit yang melayani masyarakat miskin.

Sementara rumah sakit milik Belanda hanya dikhususkan bagi golongannya yang tidak diperuntukkan bagi kaum pribumi kecuali para priyayi.
“Dadi beliau buka klinik, buka apa semacam kesehatan: Ayo! Nek berobat ning kene … ning kene … nek pada ndidit ya dibalekne maneh ngga layanan (jadi beliau membuka klinik, membuka apapun semacam rumah kesehatan dan mulai menawarkan kepada masyarakat: Ayo! Kalau mau berobat di sini, di sini. Kalau punya uang kembalikan lagi untuk layanan),” kata Syauqi mengisahkan Kiai Sujak.
“Jadilah sekarang ratusan klinik Aisyah dan Muhammadiyah, Rumah Sakit PKU dengan beraneka ragam ini.”
Di depan Amil dan pengelola Lazizmu, Syauqi, menyinggung soal aset wakaf produktif yang disia-siakan.
“Kita banyak menyia-yiakan aset wakaf produktif yang biasanya berhenti diikrarnya,” seloroh dia.
Ia menyebut para pengelola Lazizmu adalah pegiat pembentuk peradaban yang diambil dari kata “laz”.
Kata “laz” berarti pembentuk peradaban. Ini karena ada misi mulia di balik aktivitas “Mu”. Namun, Sauqi tidak menjelaskan apa arti kata “Mu” di belakang kata Laziz.
“Lazizmu harus mampu membentuk peradaban,” katanya.
Bahkan selama 1 abad, sambungnya, Muhammadiyah telah menjalankan sociopreneurship.
“Dan hebatnya yang menjadi tulang punggungnya adalah Lazizmu.”
Sociopreneur terdapat entrepreneurship dengan nilai-nilai sosial untuk kemanfaatan.
Baca: Program Tani Bangkit, Lazizmu Gaet Dua Perusahaan Budidayakan Umbi Porang
Syauqi mengatakan bahwa Ekonomi Muhammadiyah bukan hanya sekadar Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) dan atau Badan Usaha Milik Muhammadiyah (BUMM), tapi adalah Lazizmu.
Sosial di Muhammadiyah itu, kata dia, sosial yang berorientasi kepada kemanfaatan — yang kemanfaatannya ditafsir secara pendek oleh kapitalis menjadi keuntungan uang.
Tafsiran itu justru membuat prespektif yang keliru sementara Lazizmu merupakan badan pengelola milik Muhammadiyah yang berdakwah dan berjuang untuk umat.
“Padahal kita tidak bicara itu tapi bicara kemanfaatan,” pungkasnya. (adam)
















