
SEKAYU, fornews.co – Nenek Halba lahir di Teluk, Kecamatan Lais, Musi Banyuasin (Muba), 19 September 1898. Di usia lebih satu abad (100 tahun), Halba hanya bisa terbaring dan mengandalkan pendengaran untuk mengenali orang di sekitarnya. Kendati demikian, kesehatan bersangkutan terbilang baik.
Sepeninggal sang suami, Halba, hidup dan tinggal bersama anaknya Hakim. Saat ditemui di kediamannya, Senin (03/04), nenek Halba terlihat sehat hanya saja dirinya tidak bisa berjalan lagi. Nenek Halba, merupakan satu di antara 4.000 lebih jumlah penduduk Desa Teluk, yang hingga kini berusia lebih dari satu abad. Untuk bisa mengenali orang nenek Halba, hanya menggunakan indera pendengarannya sedangkan matanya sudah rabun, sehingga untuk melihat dan mengenali orang sudah tidak bisa ia lakukan.
“Umak (ibu) kami saat ini, hanya bisa berbaring di rumah saja. Untuk berjalan sudah tidak bisa lagi. Kalau ada tamu yang datang, hanya bisa mengenali dari suaranya, itupun terkadang umak kami tidak bisa mendengar dengan baik,” tutur Hakim.
“Alhamdulillah, Tuhan masih memberi umur panjang dan sampai sekarang umak kami masih sehat walaupun sudah tidak bisa berjalan,” tambahnya. Namun, tidak bisa digalih lebih banyak terkait sejarah Nenek Halba muda.
Sementara, Kepala Desa Teluk, Imron menyampaikan, berdasarkan sumber data penduduk Desa Teluk, dan berdasarkan pengakuan dari keluarga serta identitas kependudukan yang dimiliki oleh nenek Halba, kalau usia Halba, memang benar sudah 100 tahun lebih.
“Kalau dilihat dari bukti identitas yang terdata di pemerintah, memang usia Nenek Halba, sudah lebih satu abad,” katanya singkat.
Mustakim (42), tetangga nenek Halba, juga membenarkan bahwa usia Halba memang sudah lebih dari 1 abad atau 100 tahun. “Kami dari kecil berdekatan rumah. Saat saya kecil, kondisi nenek Halba, memang sudah tua sekali,” terangnya. Mustakim berharap, semoga ada bantuan dan perhatian dari pemerintah baik pemerintah kabupaten maupun dari kecamatan, setidaknya dapat santunan dari pemerintah. (cak)















