JOGJA, fornews.co — Tahun 2026 menjadi momentum penting bagi Jogjakarta dengan ditetapkannya sebagai embarkasi haji.
Hal ini menjadi yang pertama karena Jogja menjadi satu-satunya embarkasi di Indonesia yang menggunakan sistem jamaah menginap di hotel sebelum keberangkatan.
Pelaksana Harian Kepala Kantor Bea Cukai Jogja (BEJO), Imam Sarjono, menyampaikan penetapan tersebut membawa tantangan juga tanggung jawab besar dalam memastikan kualitas pelayanan jamaah haji tetap optimal.
“Ini baru pertama kali Jogja menjadi embarkasi. Tantangannya ada pada pelayanan, sehingga kami terus berkoordinasi dengan Karantina, Kementerian Haji, dan instansi terkait agar tidak muncul hambatan dalam layanan jamaah,” ujarnya.
Sebagai bentuk kesiapan, pihaknya menyiapkan 36 personel khusus untuk melayani jamaah mulai dari keberangkatan hingga kepulangan.
Prinsip pelayanan yang diterapkan adalah smart, yakni pengawasan tetap berjalan tanpa mengganggu kenyamanan jamaah.
“Kami harus memastikan jamaah tidak membawa barang yang berpotensi menimbulkan masalah di negara tujuan, maupun barang-barang terlarang saat kembali ke Tanah Air. Namun pengawasan ini tidak boleh menjadi hambatan,” tegasnya.
Dalam rangka memastikan kesiapan sistem, akan dilaksanakan simulasi pada 26 Januari. Simulasi tersebut mencakup seluruh alur, mulai dari jamaah turun dari bus, penempatan koper, proses masuk pesawat, hingga skema kepulangan.
“Simulasi ini penting karena Jogja menjadi yang pertama dan satu-satunya di Indonesia dengan skema seperti ini,” tambah Imam.
Selain itu, pihaknya juga menyiapkan sosialisasi melalui buku saku dan video edukasi yang dapat diakses jamaah di hotel maupun melalui ponsel.
Langkah tersebut dilakukan untuk menyamakan pemahaman jamaah terhadap aturan perjalanan haji.
Dalam aspek pengawasan, pada Juni lalu selama dua bulan dilakukan pengawasan terhadap potensi penyelundupan narkoba dan hasilnya nihil. Meski demikian, kewaspadaan tetap ditingkatkan.
“Kami terus membangun insting pengawasan. Jika jumlah penerbangan meningkat, kami juga akan meminta bantuan anjing pelacak di YIA sebagai bagian dari mitigasi,” ungkapnya.
Imam berharap seluruh proses ke depan berjalan semakin baik dan mendapat dukungan dari berbagai pihak, termasuk media.
“Tanpa dukungan teman-teman media, apa yang kami kerjakan tidak akan tersampaikan ke masyarakat. Kolaborasi ini sangat kami harapkan,” pungkasnya.

















