PALEMBANG, fornews.co – Selain mengajarkan ilmu agama, Rumah Tahfidz Rahmat Palembang, juga membekali santrinya menulis sastra berbasis pesantren.
Pengasuh Rumah Tahfidz Rahmat Palembang, Imron Supriyadi, proses latihan menulis di Rumah Tahfidz Rahmat adalah dasar bagi santri untuk mengolah daya imajinasi mereka. Pola awal yang diterapkan sangat sederhana, tanpa teori akademik sebagaimana di kampus, mengingat santri bermukim dengan usia yang beragam, 9-16 tahun.
“Sengaja dalam latihan ini saya tidak mendahulukan teori sastra secara akademik, nanti mereka malah pusing dan tidak menulis. Saya hanya menyuruh mereka menulis kegiatan keseharian sejak bangun tidur sampai ke tempat latihan menulis, ya semacam catatan harian,” ujar Imron yang juga pegiat sastra tersebut, Selasa (21/11).
Ia menjelaskan, pelatihan menulis ini menjadi salah satu program ekstrakurikuler di Rumah Tahfidz Rahmat, kerja sama dengan Dangau Sastra, sebuah lembaga nirlaba Palembang, yang konsen terhadap pembinaan penulis pemula. Sebab, tugas pokok santri menghafal Al-quran.
“Tugas pokok mereka memang menghafal quran, karena ini rumah tahfidz. Namun, menurut kami, mereka juga harus memiliki keterampilan lain, di antarannya menulis sastra,” ucap dosen luar biasa di Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Fatah Palembang, ini.
Lanjut Imron, berbagai respon santrinya saat diajarkan menulis. Santrinya yang bermukim (17 orang) tidak lagi mengenyam pendidikan formal, sehingga dalam satu pekan mereka diwajibkan minimal 2 kali menulis secara manual, di atas buku tulis sebagaimana murid sekolah pada umumnya.
“Semua bebas-bebas saja. Sebab menulis itu juga dunia kebebasan berpikir, jadi apapun tanggapan santri terhadap pelatihan menulis ini menjadi bagian apresiasi mereka. Intinya ada yang mereka rasakan. Nanti kalau sudah menemukan ruh dalam menulis, komentarnya akan berbeda,” terangnya.

Saat berlangsung pelatihan, ada saja santri yang berkomentar lucu, apalagi mereka sudah lama tidak mengenyam sekolah formal dan menulis sebagaimana anak sekolah pada umumnya. Azriel (15), salah satu santri asal Perumnas Palembang mengaku lelah menulis dengan tangan. “Tangannya capek ustadz, pegel,” ujar Azriel yang ditingkahi gelak tawa santri lainnya.
Lain halnya dengan Adi Saputra (16), santri asal Sekayu Musi Banyuasin yang terdorong ingat dengan kisah sedih di masa lalunya. “Kalau aku sedih ustadz. Aku jadi ingat kesedihan di masa lalu,” ujarnya saat diminta tanggapannya tentang kesan dalam belajar menulis sastra dalam dua pekan ini.
Jaka Surya (16), mantan siswa SMA di Palembang justeru kebalikan dari Adi. Santri RT Rahmat yang sudah menyelesaikan 5 juz ini mengaku dengan menulis ada perasaan senang. “Saya malah senang, karena saya ingat masa-masa saat saya masih dulu sekolah,” katanya.
Sementara itu, Sumarman, Koordinator Program Dangau Sastra Palembang menyebutkan, melalui kegiatan menulis dalam 1 pekan dua kali ini, berharap ke depan kisah yang ditulis para santri, minimal dapat menjadi dokumentasi sejarah bagi diri dan keluarganya.
“Namun targetnya, dangau sastra sedang menumbuhkan minat baca dan menulis di kalangan santri, sekaligus untuk mendukung gerakan literasi nasional yang sedang digalakkan,” tuturnya.
Lebih lanjut, penyair di Palembang yang akrab dipanggil Warman Pluntaz ini menjelaskan, dalam waktu tiga bulan ditergetkan sejumlah tulisan santri ini akan disalin ulang, kemudian dilakukan editing seperlunya.
“Saat ini kita juga sedang menjajaki kerjasama dengan penebit, baik di dalam atau luar Kota Palembang, dan karya sastri ini akan kita tawarkan agar bisa diterbitkan,” pungkasnya. (ibr)
















