Dalam hitungan bulan, Palembang akan menjadi tuan rumah penyelenggaraan Asian Games bersama Jakarta. Sebagai tuan rumah, sudah tentu Wong Kito harus menjadi pelayan yang baik bagi para tamu dari seluruh negara di Asia.
Lantas, bagaimana kondisi keamanan, kedisplinan, keindahan Kota Palembang menuju perhelatan pesta olahraga terbesar di Benua Asia tersebut. Memang, hingga hari ini, Palembang masih membutuhkan semua hal agar tamu yang hadir di Kota Pempek ini merasa nyaman.
Jika merujuk pada bagaimana tingkat keamanan, kedisplinan dan keindahan kota, Singapura selalu menjadi rujukan negara-negara tetangga di Asia Tenggara, termasuk Indonesia.
Kepala Dinas Komunikasi dan Informasi (Kadiskominfo) Sumsel, Farhat Syukri mengatakan, setelah melihat langsung bagaimana kondisi di Singapura, pihaknya akan mengusulkan beberapa regulasi yang ada di Singapura ke Pemprov Sumsel. “Transportasi di Singapura tidak ada macetnya, meski kesibukan negara ini sangat luar biasa. Kita sebagai tamu di negara ini memang sangat nyaman. Karena, dari segi keamanan, kedisiplinan serta keindahannya sangat tinggi. Bahkan para perokok pun termarjinalkan. Kemudian, di kamar hotel pun tidak diperkenankan merokok, sekalipun hanya di kamar mandinya,” katanya, saat berkunjung ke Singapura, Minggu (05/11) lalu.
Farhat mengungkapkan, sempat berjalan-jalan di Kota Singapura pada pukul 05.00 waktu setempat. Meski tidak ada petugas, tetap saja kedisiplinan warga sangat tinggi. Tidak ada satupun kendaraan yang melanggar lalu lintas, namun mereka sangat patuh. Bahkan sangat menghormati para pejalan kaki. Bagi para pejalan kaki, mereka juga tidak sembarang menyebarang jalan, kendali jalan masih sepi. Ada tempat-tempat khusus untuk menyebarang jalan. “Kedispilin ini yang harus di adopsi. Apalagi, Palembang sebentar lagi akan menjadi tuan rumah penyelenggaraan Asian Games bersama Jakarta,” ungkapnya.
Selain itu, jelasnya, ada regulasi yang ditetapkan pemerintah Singapura yang membuat harga mobil menjadi sangat mahal. Jadi, tidak semua masyarakat mampu membeli mobil, kecuali orang yang benar-benar kaya. Karena pemerintah, dalam tanda kutip memaksa warga mereka untuk menggunakan anggkutan massal, untuk mengurangi kemacetan. “Kemudian khusus bagi kendaraan plat merah, yang hanya boleh dibawa pada tiap Sabtu dan Minggu. Inilah kira-kira culture yang ada di Singapura dan beberapa regulasi nantinya yang akan kita adopsi dan kita usulkan,” jelasnya.
Farhat meneruskan, kalau di Palembang atau Indonesia mungkin warga masih bisa merokok dan membuang sampah sembarangan tanpa di sanksi. “Tapi, coba lakukan itu di Singapura, merokok di tempat dilarang bisa didenda 200 SGD, buang sampah sembarangan didenda 300 SGD. Bahkan, berludah sembarangan bisa didenda 200 SGD. Kalau di kurs Rupiah, dendanya mencapai dua hingga tiga juta,” tukasnya.
Selanjutnya, papar Farhat, meski tanpa kegiatan apapun, kondisi kota Singapura sangat kondusif dan aman. Seperti, sepeda-sepeda yang disediakan untuk pedestrian yang ditempatkan dimanapun, tidak ada yang hilang. “Warga yang ingin menggunakan sepeda tersebut hanya mendownload aplikasi dan bisa menggunakannnya. Artinya warga juga bertanggung jawab terhadap keamanan Singapura,” paparnya.

Apartemen dan perumahan pribadi warga Singapura di kawasan Selegie, yang tertata rapi dan bersih. Tingginya kedisplinan warga Singapura bisa menjadi contoh bagi Palembang, menuju penyelenggaraan Asian Games 2018.
Sementara, agen perjalanan Singapura, Ling Hock Huat menilai, kalau membandingkan dengan Singapura, Indonesia termasuk daerah-daerahnya memang kurang nyaman. “Seperti Jakarta yang selalu macet. Itu karena mobil murah dan penduduknya banyak. Tapi yang paling baik itu penduduk indonesia ramah dan santai. Indonesia bisa maju, hanya masalah waktu,” ujarnya.
Pria yang akrab disapa Kevin itu meneruskan, terkadang orang-orang Indonesia kerap menunda pekerjaan. Sementara, warga Singapura orangnya ingin selalu cepat, terburu buru, kerja terus, disiplin. Warga Singapura juga mendapatkan ketenagan hidup, karena tingkat keamanan mereka terjamin. Kevin mengakui, kalau biaya hidup di Singapura itu mahal.
Kevin menceritakan, bahwa warga yang memiliki mobil di Singapura termasuk warga berkecukupan. Karena nilai untuk sebuah mobil sangat mahal. Pemerintah mengenakan pajak pembelian mencapai 50% dari harga mobil tersebut. Ada 65% warga yang memiliki mobil pribadi, sisanya menggunakan transportasi massal.
“85% warga Singapura tinggal di rumah susun, 10% di apartemen dan sisanya di rumah pribadi. Kalau syarat untuk membeli rumah susun, harus Warga Negara Singapura dan harus menikah, umur harus di atas 21 tahun dan pendapatan satu bulan harus diatas 12.000 SGD. Di rumah susun itu, warga bisa menempati selama 90 tahun, setelah itu dikembalikan lagi pada pemerintah. Kalau untuk apartemen yang murah di Singapuraharganya 1juta SGD. Jadi, mau tak mau pasangan suami istri harus bekerja,” urainya. (sidratul muntaha)
















