KAYUAGUNG, fornews.co – Sejak setahun terakhir populasi kerbau rawa Pampangan, Ogan Komering Ili (OKI), menurun. Bahkan puluhan ekor kerbau yang diternak warga Desa Bangsal, Kecamatan Pambangan, punah menyusul sulitnya pasokan pakan bagi pemilik nama ilmimah Bubalus Bubalis tersebut.
“Dari data terakhir, populasi kerbau Pampangan mencapai kurang lebih 350 ekor dari hampir 500 ekor kurun waktu Maret-Oktober 2017 lalu,” ungkap Ketua Kelompok Tani Harapan Bersama Desa Bangsal, Kecamatan Pampangan, OKI, M Husin, yang ditemui di kediamannya, Senin (26/03).
Menurutnya, kepunahan yang terjadi bukan dalam artian mati. Melainkan, kepunahan di sini dimaksudkanya kondisi kesehatan kerbau banyak sakit dan kurus sehingga oleh pemiliknya dijual. Karena, jika dibiarkan bisa mati sia-sia.
Adapun penyebab dari kondisi tersebut, sulitnya pakan ternak yang umumnya diliarkan oleh pemiliknya di rawa. Ada beberapa hal, pertama lamaranya rumput terendam air sehingga begitu kawasan rawa gambur airnya menyusut kondisi rumput sudah mati dan untuk tumbuh kembali memakan waktu lama.
“Peternak kerbau di sini memang tidak ada cara lain memberi pakan peliharaannya, selain di lepas ke rawa. Kami belum punya teknologi untuk memberi pakan tambahan untuk kerbau selain rumput,” ucapnya, seraya mengatakan, perkembang biayan kerbau setiap induk hanya beranak satu ekor.
Padahal menurutnya, keberadaan kerbau di daerah ini bukan hanya untuk pasokan daging. Melainkan, susunya juga menjadi nilai ekonomis bagi warga sebagai mata pencaharian tambahan dalam kondisi tidak bercocok tanam, terutama di musim penghujan. Karena lahan bertani yang terendam air.
“Kami sangat menginginkan ada teknologi pembuat pakan ternak kerbau, agar populasinya tidak merosot. Ini salah satu andalan penopang perekonomian warga,” ucapnya.
Mengenai banyaknya kerbau punah akibat kekurangan pakan, hal tersebut dibenarkan Kades Bangsal, M Hasan. Menurutnya, bentang alam (landscape) lahan gambut tempat populasi kerbau Pampangan berkembang biak, yang beralih fungsi menjadi perkebunan juga menjadi faktor anjloknya kerbau Pampangan.
“Jadi, kawasan tempat kerbau dilepas mencari pakan sebagian besar sudah menjadi lahan perkebunan sawit. Kami tidak bisa berbuat, karena memang bukan masuk wilayah kami. Tapi sebelum adanya perkebunan di tetangga desa, itu lokasi ternak mencari makan,” terangnya.
Ia mengaku, berdasarkan dari laporan atau warga yang meminta surat pengantar untuk penjualan kerbau setidaknya lebih dari 100 hingga akhir tahun ini. Penjualan dilalukan karena menurunnya kondisi kesehatan.
“Yang banyak didapati kerbau tidak bisa berdiri (gempor) karena kurang makan. Tentunya melihat ternaknya kondisi tidak baik, pemilik langsung menjualnya,” bebernya, yang juga menyebutkan, warganya yang berternak kerbau Pampangan, ada sekitar 30 kepala keluarga (KK), dengan populasi kerbau lebih dari 300 ekor.
Lebih jauh disampaikan Kades Hasan, dalam keadaan ini pihaknya juga tidak mau menyalah siapa-siapa. Namun, yang sedangkan dipikirkannya upaya membuat pakan ternak kerbau warganya agar populasinya tetap terjaga.
“Saya pernah mendengar bahwa pelepah kelapa sawit bagus untuk pakan ternak. Tapi teknologinya kita belum ada dan tentu mahal. Mudah-mudahan ke depan kita bisa mewujudkannya,” tandasnya. (ibr)
















