Palembang, fornews.co – Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) menyatakan, gelar Raja Balaq Mangku Nagaro dan Ratu Indoman yang dinaugerahkan kepada dan untuk ibu negara Iriana Joko Widodo di halaman Griya Agung, Minggu (25/11), punya makna sebagai pesan dan harapan.
“Ini sebagai pesan dan harapan serta tanggungjawab untuk selalu mengangkat derajat masyarakat adat Komering. Untuk yang lebih luas lagi memajukan masyarakat Sumsel. Saya berterimakasih sebesar-besarnya atas kehormatan yang diberikan kepada saya. Semoga kebudayaan dan kearifan lokal ini jadi kepribadian bangsa,” ujarnya, usai mendapatkan gelar oleh Majelis Tinggi Adat Komering, di Girya Agung, Minggu (25/11).
Gelar yang diberikan untuk orang nomor satu di Indonesia tersebut, memiliki Raja Agung yang Memegang Kekuasaan Tertinggi Negara. Sementara ibu negara Iriana Joko Widodo dianugerahi kunai/ gelar Ratu Indoman yang bermakna seorang ratu yang bukan saja mengayomi dan membantu rakyatnya tapi memberi keteguhan dan kenyamanan dalam negara.
Prosesi upacara pemberian dua gelar tersebut diberikan langsung oleh Ketua Majelis Tinggi Adat Komering Sumsel, H Romli Mustika Ratu, dihadapan 44 Paguyuban se Indonesia, Bupati, Kepala OPD, FOKKU dan masyarakat Sumsel. Kemudian, piagam penghargaan diserahkan oleh Gubernur Sumsel, Herman Deru dan Istri, Febrita Lustia Deru.
Menurut Jokowi, di Indonesia tercatat ada sebanyak 714 suku yang dimiliki dengan budaya masing-masing yang berbeda satu sama lainnya. Hal ini menjadi modal yang kuat bagi Indonesia untuk meraih kemajuan.

Jokowi menerangkan, berkaca pada cerita konflik di Afganistan yang hanya ada 7 suku, namun dua di antaranya berkonflik berkepanjangan hinggaa 40 tahun lamanya. Jika dibandingkan dengan 714 suku yang ada di Indonesia, jumlah tersebut sangat kecil sekali. Karena sang presiden tak henti-hentinya mengimbau masyarakat Indonesia untuk mencegah konflik sekecil apapun. “Negara kita ini sangat besar dari Sabang sampai Merauke, ada 714 suku. Karena itu persatuan dan Kerukunan adalah aset kita,” jelasnya.
Konflik itu, sambungnya, biasanya sering dimulai dari urusan politik, baik itu pemilihan Bupati, Walikota Gubernur hibgga Presiden. Terkadang, masyarakat sering lupa bahwa hal ini berulang setiap lima tahun.
“Rasional saja silahkan pilih A, pilih B silahkan. Jangan sampai ada gesekan sekecil apapun. Ini harus disyukuri. Karena kalau kita bisa satukan, ini bisa jadi aset. Kedepan semoga adat Komering ini berperan aktif menjaga kerukunan di Indonesia,” tukasnya.
Gubernur Sumsel, Herman Deru menuturkan, pemberian gelar ini untuk melestarikan budaya daerah Sumsel. Melalui silaturahmi seperti ini gubernur berharap dapat meningkatkan kemajuan daerah Sumsel agat maju untuk semua.
“Pemberian gelar ini sudah melalui proses dan ritual adat Komering. Sudah direstui tetua dan Majelis Tinggi Komering Sumsel, melalui musyawarah mufakat untuk berikan jajuluk atau gelar kepada Presiden Jokowi,” tuturnya.
Adapun pemberian adop/jajuluk/gelar ini memiliki makna simbolik sebagai pertanda, bahwa masyarakat Komering menghormati keberadaan seseorang yang telah berjasa pada masyarakat bangsa dan negara. “Mereka yang dapat gelar ini diangkat jadi keluarga kehormatan dan bagian dari masyarakat Komering,” kata Herman Deru.
Sementara, Ketua Majelis Tinggi Adat Komering Sumsel, H Romli Mustika Ratu menambahkan, pemberian gelar tersebut merupakan pelampiasan hati masyarakat Komering dan Sumsel. Mereka bangga dengan kepemimpinan Presiden RI Joko Widodo. “Semoga Presiden bisa memberikan kesejahteraan serta memajukan adat, tradisi dan budaya masyarakat Indonesia khususnya warga Komering dan Sumsel,” tandasnya. (tul)

















