PALEMBANG, Fornews.co–Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Unit Pelaksana Teknis (UPT) Balai Pengembangan Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat (BP PAUD dan Dikmas) Sumsel, terus menjalin kerjasama dengan organisasi, mitra/lembaga penggiat pendidikan, guna meningkatkan mutu pendidikan.
Kepala BP PAUD dan Dikmas Sumsel, Drs Dadang Sudarman Trisutalaksana menyampaikan, sesuai dengan apa yang di implementasikan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 2 Tahun 2018 tentang Standar Pelayanan Minimal (SPM), memang pihaknya harus menemukan model terbaru dan cara yang efektif untuk menangani cara pembelajaran anak-anak usia dini.
“Kita menggandeng kerjasama dengan organisasi, mitra/lembaga penggiat pendidikan ini, untuk mendapatkan masukan dari rencana pelaksana program pengembangan kemitraan,” ujarnya, saat berbicara pada Forum Grup Discussion (FGD), Pengembangan Kemitraan untuk Penyelenggaraan PAUD dan Dikmas, di Kantor BP PAUD dan Dikmas Sumsel, Jumat (21/12).
Dadang mengungkapkan, dari apa yang sudah dilakukan pihaknya selama 2018 ini, tentu akan ada evaluasi pada 17 kabupaten/kota yang ada. “Untuk itulah, kami perlu energi dan bersinergi dengan semua pihak yang konsen dengan pendidikan anak usia dini ini,” ungkapnya.
Kasubag Umum BP PAUD dan Dikmas Sumsel, Liska Piani, Msi menuturkan, bahwa FGD ini juga diharapkan bisa mengidentifikasi dan memformulasikan bahan untuk masukan program pengembangan kemitraan, terkait identifikasi organisasi/mitra penggiat pendidikan dan kebudayaan, roadmap kegiatan kemitraan dan bahan masukan penyusunan kerangka program.
“Ya itu tadi, karena wilayah dari UPT BP-PAUD dan Dikmas Sumsel ini cukup luas, hingga ke Bangka Belitung (Babel). Kita berharap, setelah FGD ini akan muncul banyak masukan dari para mitra kita,” tuturnya.
Dalam FGD tersebut, menghadirkan pembicara dari Ketua kelompok kerja II PKK Sumsel Ir Sri Novi Andriati, Kabid PAUD Pendidikan Non Formal (PNF) Disdik Muratara Yuli Andriani SH, dan Ketua Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Sumsel Sidratul Muntaha, SE.
Dari FGD tersebut, menghasilkan beberapa program usulan pengembang yang kemungkinan akan dilakukan untuk tahun 2019 nanti. Pertama, mengenai program satu tahun PAUD pra setelah dasar, program yang diusulkan adalah sosialisasi terhadap masyarakat kabupaten/kota se-Sumsel, tentang perkembangan psikis usia anak balita dan balita, serta workshop tentang perkembangan psikis anak untuk guru.
Kemudian, mengenai publikasi dan edukasi masyarakat tentang pendidikan anak usia dini dan pendidikan masyarakat melalui media, program yang diusulkan adanya Festival Satu Atap menuju Generasi Emas 2019, yang melibatkan orang tua dan anak-anak dalam suatu momen kebersamaan.
Terakhir, program pendidikan bagi suku anak dalam (SAD), yang diusulkan adalah pemberdayaan keluarga dengan mengembangkan obat-obat kubu, program keterampilan untuk orang tua dengan menggali skill yang telah dikuasai agar menjadi sumber penghasilan, mengangkat nilai kesenian suku anak dalam dan pembinaan untuk tutor, serta program pembelajaran yang menarik agar anak-anak betah belajar di kelas.
Khusus untuk program anak suku dalam, hal ini benar – benar menjadi perhatian. Meski banyak pendidikan lain yang juga tetap menjadi perhatian, tapi untuk anak suku dalam ada program tersendiri.
mengatakan “Agar mereka bisa Ikut serta dalan pendidikan dan pembangunan, mengangkat derajat mereka. Dalam artian, mereka disamakan dengan masyarakat Indonesia pada umumnya, memanusiakan manusia, agar diakui juga sebagai masyarakat, seperti pada umumnya, tidak ada diskriminasi dan perbedaan” tandas Kabid PAUD Pendidikan Non Formal (PNF) Disdik Muratara, Yuliandriani. (irs)

















