
INDRALAYA, fornews.co – Aksi mahasiswa Universitas Sriwijaya (Unsri) yang menuntut Uang Kuliah Tunggal
(UKT), di Kampus Indralaya, Ogan Ilir (OI), Kamis (03/08), diwarnai kericuhan. Dua mahasiswa (massa aksi) peduli UKT, Dedi Satri dan Agus Arianto, dihajar aparat polisi yang ditugaskan untuk mengawal aksi.
Informasi yang dihimpun massa aksi mahasiswa Unsri yang tergabung dalam Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dari beberapa fakultas, mencapai 2.000 mahasiswa untuk menuntut masalah UKT, serta menyuarakan terkait dinonaktifkannya tiga mahasiswa serta kriminalisasi terhadap Presiden Mahasiswa (Presma) Rahmat
Fahrizal.
“Aksi ini untuk meminta pihak birokrasi universitas, memotong UKT sebesar 50% bagi mahasiswa semester sembilan. Juga mendesak pihak Rektorat Unsri memberhentikan kriminalisasi aktivis mahasiswa,” ujar Rahmad Ferizal.
Ia menceritakan, kronologis sehingga ia dilaporkan pihak rektorat ke Polres OI, dan teman-temannya ikut dikriminalisasi oleh rektorat berawal saat dirinya memimpin janji mahasiswa yang berisi ajakan berjuang sampai UKT semester sembilan diturunkan pada Acara Pengenalam Kehidupan Kampus (PK2) Mahasiswa Unsri hari Selasa (01/08) lalu.
Namun belum ia selesai memimpin sumpah itu, Wakil Rektor III Zulkarnain, mengambil mikrofon dan berucap jangan menghasut. “Kejadian tidak sampai disitu, akhirnya saya dilaporkan ke Polres OI. Karena mereka menilai, saat demo ada pengujaran kebencian kepada Rektor, mengancam untuk membakar asset negara, mempermalukan Rektor dan Senat Unsri di depan umum dan pelanggaran undang-undang dan etika,” katanya.
Sebelumnya dalam surat dari Universitas srIwijaya yang tersebar di media sosial, bernomor 1251/UN9/DT_PE/2017, berisi pelaporan mahasiswa atas nama Rahmad Ferizal maka nama tersebut dilaporkan ke Polsek OI dan juga dapat dikenai sanksi pemberhentian sebagai Mahasiswa Unsri. “Nah hari ini, kriminalisasi dari rektorat itu yang ditentang mahasiswa,” imbuhnya.
Massa aksi mahasiswa itu akhirnya disambut Wakil Rektor III Zulkarnain dan Wakil Rektor IV Ahmad Muslim. Namun, mediasi antara mahasiswa dan wakil rektorat itu tak menemukan hasil. “Tuntutan mahasiswa tidak dipenuhi,” katanya lagi.
Sementara, Wakil Rektor IV Unsri Ahmad Muslim tidak mau berkomentar dan mengatakan, Rektor Unsri Anis Saggaf yang berwenang sekarang sedang berkunjung ke Universitas Brawijaya Malang. Hingga berita ini ditulis, Anis Saggaf selaku Rektor Unsri belum bisa dihubungi.
Namun, dari hasil pertemuan Wakil Rektor Tiga Zulkarnain dan Wakil Rektor Empat Ahmad Muslim, yang mengajak negosiasi dengan tiga perwakilan mahasiswa (massa aksi) salah satunya Wakil Presma Unsri Bayu Apriliawan, Wakil Rektor 4 kepada ketiga perwakilan mengatakan “Sepertinya saat ini kami belum dapat memberikan keputusan apapun. Namun, aspirasi para mahasiswa akan kami sampaikan kepada Rektor, karena sekarang Bapak Rektor lagi berkunjung ke Universitas Brawijaya Malang”.
Mendengar hal tersebut, para perwakilan tadi langsung keluar kembali bergabung dengan ribuan mahasiswa yang sudah menunggu di halaman gedung rektorat. Nampaknya mereka tak puas terhadap keterangan Wakil Rektor Unsri, sehingga sejumlah mahasiswa mencoba memaksa masuk ke kantor rektorat.
Tetapi, tertahan oleh petugas kepolisian dan petugas keamanan kampus, lalu terdengar suara pecahan di salah satu pintu kaca bagian ruang gedung Rektorat yang hancur, dan di situlah terjadi insiden yang tidak diinginkan aparat polisi memukul massa aksi. Kemudian, perlahan para mahasiswa yang berdemo tadi akhirnya berangsur membubarkan diri. (ibr)

















