fornews.co — Penyerangan saat pembacaan sajak di Taman Ismail Marzuki (TIM) pada 1978 adalah teror yang memalukan bangsa. W.S. Rendra ditangkap tanpa pengadilan.
Di tahun itu, Menteri P & K Daud Yusuf, kepada wartawan di Jakarta pernah mengatakan tidak tepat bila untuk semua aktivitas kebudayaan pemerintah yang selalu mengatakan ini boleh dilakukan dan ini tidak.
Rendra dilempar bom amoniak saat membacakan sajak di atas panggung. Karya-karyanya yang kritis membuat penguasa tercekat dan meradang.
Pembacaan sajak yang dihadiri langsung oleh Hatta, Hugeng, dan Ali Sadikin, mendadak kacau.
Banyak orang menduga pelemparan bom di TIM dilakukan oleh aparat yang diperintahkan untuk membungkam Rendra.
Karya-karya sajak W.S. Rendra dituduh menghasut dan mengancam, sehingga berpotensi terhadap gejolak dan ketegangan sosial.
“Saya bertanya, apakah saudara-saudara akan mundur?!” kata Edi Haryono menirukan Rendra.
“Tidak…!” jawab serentak penonton yang hadir.
“Ini forum penyair. Saya berdaulat atas forum ini. Kekacauan yang baru saja terjadi adalah teror. Adalah unsur yang memalukan bangsa!” lanjut Edi menirukan kekecewaan Rendra.
Tiga hari kemudian pada Senin, 1 Mei, Rendra ditangkap. Diseret dan dijebloskan ke penjara tanpa pengadilan meninggalkan anak dan istrinya.
Sang “Burung Merak” itu dijebloskan ke Penjara Guntur tahanan militer di Jakarta Selatan.
Tapi, Rendra tak kenal menyerah meski banyak tekanan, kata kerabatnya saat diwawancara Rosi di Kompas TV.
Penjara yang gelap, sempit, lembab, dan pengap, tanpa lubang cahaya itu kerap pula disebut sel tikus.
Di dalam sel tikus, Rendra didatangi sejumlah orang berperawakan besar. Namun, tidak ada yang tahu kisah sebenarnya: apa yang terjadi di sana?
Selama di penjara Rendra mengeluh nasinya kasar. Sayurnya bening. Sehingga tidak bisa makan.
Edi dan orang-orang terdekat Rendra hanya mengatakan, saat keluar dari penjara Rendra tampak berjalan pincang.
Setelah peristiwa itu hampir bisa dipastikan tidak ada yang membicarakan kenyataan sosial dan budaya.
Peristiwa pencekalan Rendra di TIM mengingatkan pada Jose Carosta yang ditangkap karena mementaskan sandiwara Mastodon dan Burung Kondor.
“Tidak ada yang membicarakan kenyataan dan yang sesungguhnya,” ungkap Edi orang terdekat Rendra.
Sejak peristiwa itu, tulis Tempo (20/5/1978), penangkapan Rendra menjadi penting karena sekali lagi mengingatkan masalah kreasi kesenian, kebebasan dan pembatasan.
Tanpa disadari W.S. Rendra menjadi simbol pemberontakan terhadap kemapanan, kata Putu Fajar Arcana wartawan Kompas yang akrab baik dengan Ken Zuraeda istri ketiga Rendra.
“Sastra terlibat secara sosial dan politik dalam bernegara,” ujarnya.
Keberaniannya berkesenian merupakan bentuk ketakutannya agar generasi muda tidak menemukan masa-masa buruk.
Komentar yang menarik setelah kejadian muncul dari salah seorang anggota dewan yang menyebut: seniman yang tidak berani melancarkan kritik dan kontrol sosial, jangan jadi seniman. Jadi pedagang saja.
Willibrordus Surendra Broto Narendra akrab dikenal W.S. Rendra yang lahir di Solo pada 7 November 1935 justru berproses di Jogjakarta sebelum Bengkel Teater pindah ke Depok.
Rendra merupakan mahasiswa Jurusan Sastra Inggris, Fakultas Sastra dan Kebudayaan, Universitas Gadjah Mada (UGM).
Di Jogja itulah, pada tahun 60-an ketika muncul Sastrawan Malioboro, W.S. Rendra dijuluki sebagai “Burung Merak”.
Meski lebih sering berbicara tentang kegelisahannya terhadap generasi muda, peristiwa di TIM melahirkan sajak berjudul “Paman Doblang” yang di kemudian waktu menginspirasi Kantata Takwa.
Selain Rendra, di Kantata Takwa terdapat tujuh personil bernama besar, sebut saja, Setiawan Djodi, Iwan Fals, Sawung Jabo, Yockie Suryoprayogo, Totok Tewel, Innisisri, dan Donny Fatah.
Karya W.S. Rendra berjudul Paman Doblang tentang kritik sosial dan ketidakadilan menceritakan kegetirannya saat di penjara dan setelahnya.
Berikut sajak “Paman Doblang” karya W.S. Rendra.
Paman Doblang! Paman Doblang!
Mereka masukkan kamu ke dalam sel yang gelap.
Tanpa lampu. Tanpa lubang cahaya. Pengap.
Ada hawa. Tak ada angkasa.
Terkucil. Temanmu beratus-ratus nyamuk semata.
Terkunci. Tak tahu kapan pintu akan terbuka.
Kamu tak tahu di mana berada.
Paman Doblang! Paman Doblang!
Apa katamu?
Ketika haus aku minum dari kaleng karatan.
Sambil bersila aku mengarungi waktu lepas dari jam, hari dan bulan.
Aku dipeluk oleh wibawa tidak berbentuk tidak berupa, tidak bernama.
Aku istirah di sini.
Tenaga gaib memupuk jiwaku.
Paman Doblang! Paman Doblang!
Di setiap jalan menghadang mastodon dan serigala.
Kamu terkurung dalam lingkaran.
Para pangeran meludahi kamu dari kereta kencana.
Kaki kamu dirantai ke batang karang.
Kamu dikutuk dan disalahkan.
Tanpa pengadilan.
Paman Doblang! Paman Doblang!
Bubur di piring timah didorong dengan kaki ke depanmu.
Paman Doblang, apa katamu?
Kesadaran adalah matahari.
Kesabaran adalah bumi.
Keberanian menjadi cakrawala.
Dan perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata.
















