
PAGARALAM-Wali Kota Pagaralam Ida Fitriati Basjuni mengungkapkan, meski Kota Pagaralam masuk rencana program nasional yang ditetapkan pemerintah dalam Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN), namun anggaran yang dialokasikan untuk pariwisata masih sangat minim.
“Sekarang Pagaralam dimasukkan pemerintah ke dalam satu dari 88 KSPN (Kawasan Strategis Pariwisata Nasional) yang sudah menjadi rencana program nasional. Jadi Pagaralam berupaya meningkatkan kapabilitas dari akses tersebut, hingga pusat dan provinsi akan membantu itu juga. Karena, saat ini anggaran pariwisata Pagaralam untuk tahun 2017 hanya sekitar Rp3 miliar,” ungkapnya, kepada fornews.co.
Ida menjelaskan, bahwa jumlah dari dinilai anggaran tersebut masih sangat minim sekali. Makanya, pihak Pemkot Pagaralam berupaya mencari bantuan dari pemerintah provinsi dan pusat. Agar pembangunan kepariwisataan ini cepat meningkat, baik pembangunan objek maupun pembangunan pendukung-pendukung dari objek itu memerlukan bantuan dari yang lain-lain. “Idealnya anggaran untuk menopang pariwisata Pagaralam ini paling tidak sekitar Rp20 miliar setiap tahun. Karena anggaran Pemkot Pagaralam terbatas, akhirnya hanya bisa Rp3 miliar itu,” jelasnya.
Lebih jauh Ida memaparkan, sebenarnya untuk mengembangkan kepariwisataan di Pagaralam bukan hanya pemerintah Pagaralam, provinsi maupun pusat. Namun, pihak investor diharapkan bisa menanamkan investasinya di sini. “Kemudian dari pihak-pihak organisasi kepemudaan, bisa memanfaatkan semua peluang yang ada di Pagaralam dengan melakukan beragam kegiatan, sehingga otomatis kunjungan kegiatan ke Pagaralam akan meningkat. Jadi, kami berterima kasih kepada adik-adik dari Forpa Besemah dan Malaya Sumsel yang melakukan yang mempromosikan Pagaralam,” paparnya.
Sementara, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Pagaralam Samsul Bahri Burlian menuturkan, progres kunjungan wisatawan yang masuk Pagaralam tidak terlalu banyak, hanya sekitar 30% dari target tahun sebelumnya. Itu juga karena pengaruh promosi dari media sosial dan adanya penerbangan dari Jakarta-Pagaralam atau Palembang-Pagaralam. Kemudian hotel yang di Pagaralam yang selama ini dikelolah oleh pihak yang kurang professional dan sekarang telah dijalankan oleh pihak yang benar-benar professional, menjadi lebih bagus lagi.
“Tapi, sebenarnya hal yang menjadi di luar kemampuan kami adalah jarak tempuh menuju Kota Pagaralam yang sangat jauh. Kalau ditempuh dengan jalan darat, bisa mencapai 8 jam lebih. Karena saat ingin menuju ke Pagaralam dari Palembang, kerap terjebak kemacetan, hingga para tamu ini belum menikmati keindahan Pagaralam, terlanjur lelah di jalan,” tukasnya. (tul)

















