MUARADUA, fornews.co – Himpitan ekonomi memaksa Jiwit (50) bersama istri dan tiga anaknya (Handoko (10), Bambang (6) dan Aldi (2)), hidup dalam kekurangan. Gubuk berukuran 2×4 meter dengan konstruksi yang memprihatikan (reot), menjadi tempat berlindung mereka berlima dari terik matahari dan guyuran hujan.
Keberadaan warga Desa Pelangki, Kecamatan Muaradua, Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) Selatan, Sumatera Selatan (Sumsel), ini menjadi potret kemiskinan khususnya di daerah ini yang hingga sekarang belum terselesaikan oleh pemerintah, meski berbagai proyek raksasa terus bergulir di negeri ini.
Saat dikunjungi di rumahnya, terlihat kedua anak buah perkawinan Jiwit dengan Evi Susanti (38), Bambang (6) dan Aldi (2), sedang tertidur pulas tanpa mengenakan pakaian meski hanya beralaskan tikar yang dibentang di atas lantai tanah dengan konstruksi rumah terbuat dari kayu kelas rendah dan sudah rapuh.
Beuntung hari ini saat anaknya tidak tidak turun hujan, karena menurut Jiwit, jika kondisi hujan, air masih dapat masuh ke dalam rumah melalui celah atap rumah yang juga sudah banyak rusak dan air yang mengalir di tanah.
“Itu belum kering dan masih dijemuran pakaian yang biasanya dipakai anak – anak ini. Kena air pas huja, air masuk,” ujar Jiwit sembil menujuk ke arah jemuran di depan gubuknya, Kamis (21/12).
Sebagai pekerja serabutan, dirinya sadar tidak bisa memberikan tempat tinggal layak bagi keluarganya, dengan terpenuhinya kebutuhan hidup sehari-hari saja sudah sangat disyukurinya. Bahkan, Jiwit dan keluarga harus berbagi tempat dengan hewan peliharaan (ayam), dan itu merupakan anugerah sebab masih ada orang yang menupanginya.
“Iya tinggal di sinilah. Mau tinggal dimana lagi. Istri dan ketiga anak saya. Lihatlah sendiri, tempat ini saja masih numpang,” katanya.
Keprihatinan ini bukan hanya dibayar dengan tinggal di gubuk reot dan hidup serba kekurangan, yang membuatnya terpukul anaknya yang semestinya mengenyam pendidikan formal tidak didapatnya. “Jangankan mau menyekolahkan anak. Untuk makan saja kami masih sangat kesulitan,” tuturnya.
Ironisnya, Jiwit menuturkan, jika selema ini bantuan dari pemerintah kepada keluarga mereka tidak ada sama sekali. “Kalu bantuan ataupun perhatian pemerintah rasanya tidak ada sama sekali. Syukur – syukur kalau ada yang mau membantu,” harapnya.
Tampak kepedihan, ketika Jiwit menceritakan putra pertamanya (Handoko) yang putus sekolah karena tidak adanya biaya. “Anak pertama memang sudah tidak sekolah lagi. Nah kalau yang nomor dua ini belum tau juga mas. Rencananya tahun depan mau masuk SD, tetapi kalau penghasilan seperti sekarang ini, sulit juga rasanya. Apalagi peralatan sekolah sekarang sudah mahal semua,” ucapnya. (crs)
















