
TALANG KELAPA-Mungkin tak begitu banyak orang, yang pernah merasakan manfaatkan dari varian labu madu. Karena, labu jenis ini belum terlalu banyak dijumpai di pasar buah atau diperkebunan. apalagi budidaya buah ‘eksklusif’ ini baru tersebar di sebagian Pulau Jawa dan Sumatera.
Padahal, labu madu atau Butternutsquash yang berasal dari Waltham, Amerika Serikat ini, memiliki rasa yang manis dan memiliki tekstur lembut, serta memiliki banyak manfaat bagi tubuh sangatlah cocok menjadi pilihan makanan sehat bagi keluarga yang kekinian.
Apalagi, labu madu ini sangat tepat sebagai makanan pendukung asi, program diet, mencegah koresterol, penuaan dini dan kanker karena mengandung antioksidan yang tinggi. Karena, kandungan vitamin A dan beta carotene pada labu madu, membuat buah ini juga cocok dikonsumsi bagi penderita diabetes.
Menurut Aprizal Alamsyah, petani labu madu di Jalan Pangeran Ayin, Kelurahan Kenten Laut, Kecamatan Talang Kelapa, Kabupaten Banyuasin, untuk membudidayakan labu madu tidaklah sulit. Namun, ada beberapa kegiatan yang perlu diperhatikan, mulai dari persiapan, penanaman, pengendalian hama dan penyakit, serta panen.

Khusus persiapan, papar Aprizal, setidaknya menyiapkan persiapan lahan. Yakni, penggemburan tanah dan pembuatan bedengan dengan lebar 1 meter dan tinggi 40 – 50 cm. Jarak antar bedengan berkisar 2 – 4 meter. “Kemudian dilakukan penebaran pupuk kandang sebanyak 10 – 15 ton/hektare di atas bedengan dan di bera selama 2 minggu. Bedengan ditutupi mulsa untuk menjaga kelembaban tanah dan mengurangi gulma di sekitar tanaman. Setelah itu dilakukan pembuatan para-para sebagai tempat merambat tanaman labu madu,” paparnya.
Aprizal yang menjadi pioneer membudidayakan labu madi ini melanjutkan, sistem yang dilakukan untuk penanaman labu madu adalah double row, dengan jarak 2m x 50cm x 100cm. Untuk jenis-jenis varietas labu madu impor yang umum dibudidayakan, yakni labu madu Jacqueline, Havana dan Hanna. “Tapi saat ini, produsen benih terkemuka asal Purwakarta telah mampu mengembangkan varietas F1, labu madu yang kualitasnya sama dengan benih impor. Sebelum disemai, perlu dilakukan seed treatment pada benih dengan perendaman air panas untuk mempercepat proses perkecambahan. Bibit dapat dipindahkan ke lapangan setelah berumur 1-2 minggu,” urainya.
Pria yang bekerja di Balai Penelitian Sembawa ini menuturkan, untuk pemeliharaan, dimulai dari pemupukan yang dilakukan dengan menggunakan 2 cara, yaitu semprot dan kocor. Pertama, pupuk disemprotkan pada daun, untuk merangsang pembentukan buah. Jenis pupuk daun yang digunakan, urainya, adalah jenis pupuk dengan komposisi hara Fosfat dan Kalium yang lebih tinggi dibandingkan Nitrogen. “Sementara itu, pupuk kocor dilakukan dengan melarutkan pupuk NPK dalam air. Aplikasi pemupukan kocor dan semprot dapat dilakukan seminggu sekali, dengan jeda 3-4 hari kocor dan semprot,” tuturnya.

Namun, untuk membudidayakan labu madu ini, sambungnya, tentu harus mengenal cara mengendalikan hama dan penyakit. Karena, hama yang sering terjadi pada labu madu datang dari kumbang oteng-oteng (Aulocophora similis Oliver), sedangkan penyakitnya berupa layu bakteri/fusarium sp. Hanya saja, untuk tingkat serangan hama dan penyakit pada buah labu madu ini masih tergolong rendah. Karena, pengendalian kumbang oteng-oteng dapat dilakukan dengan memungut kumbang tersebut secara manual dan memusnahkannya. Tapi, jika tingkat serangan tinggi, pengendalian kumbang oteng-oteng dapat dilakukan dengan penyemprotan insektisida berbahan aktif (kimia) pada pagi dan sore hari. “Kalau untuk pencegahan penyakit layu bakteri/fusarium sp, harus dilakukan mulai dari persiapan lahan mulai dari bajak/cangkul dan pemberaan lahan selama 2-3 minggu untuk mematikan spora fusarium yang kemungkinan ada di dalam tanah,” sambungnya.

Setelah semua proses tersebut dilakukan, tinggal siap-siap untuk memanen buah dengan rasa manis legit ini. Aprizal menambahkan, bahwa untuk panen dapat dilakukan ketika tanaman berumur 85-90 hari setelah tanam. Ciri buah yang sudah siap secara fisiologis di panen, tangkai pada pangkal buah sudah berubah warna dari hijau ke coklat dan warna buah sudah coklat mengkilap.
“Tingkat grade labu madu ini ada dua, yaitu grade A dengan berat lebih dari 1,5kg dan grade B dengan berat 500 gr hingga dibawah 1.500 gr. Setelah dipanen, daya simpan labu madu ini dapat bertahan selama 6 bulan dan harga buahnya dipasaran lokal berkisar Rp. 600-1.000,- /100 gram. Labu madu ini dapat dikonsumsi langsung dan diolah dengan cara direbus atau dioven, disajikan dalam berbagai jenis hidangan seperti sayuran (soup), kue ataupun jus segar,” tutupnya. (tul)

















