PALEMBANG, fornews.co – Beberapa negara seperti Inggris, Amerika Serikat (AS), dan Jerman mengumumkan rencana memulai vaksinasi COVID-19 pada Desember tahun ini. Untuk Indonesia, meski ditargetkan secepatnya namun belum ada waktu pasti kapan vaksinasi akan dimulai.
Menyikapi rencana vaksinasi negara-negara maju tersebut, Ahli Mikrobiologi Sumatra Selatan Prof. Yuwono justru mengajak kita semua untuk memahami lebih dulu tentang vaksin agar pemerintah dan masyarakat dapat bijak dalam menyikapinya. Mengingat, tiga kandidat vaksin diketahui efektivitasnya sebesar 90-95%.
“Bagaimana dengan Indonesia? Yuk, kita belajar tentang vaksin, supaya kita bisa bijak menyikapinya,” kata Yuwono melalui akun facebook miliknya, Minggu (29/11).
Ia menjelaskan, vaksin disuntikkan agar tubuh merespons dengan membentuk Neutralizing Antibody (NA) yang spesifik dan efektif mencegah infeksi. Karena itu, orang yang disuntik harus memenuhi syarat untuk kemungkinan bisa membentuk NA tersebut.
“Inilah alasan sasaran vaksin COVID adalah usia 18-59 tahun,” terangnya.
Syarat mutlak suatu vaksin efektif yaitu aman, yang berarti tidak menyebabkan sakit atau mati dan manjur atau mampu memicu NA. Sejauh ini ada 3 kandidat vaksin COVID-19 yang menduduki rangkin teratas vaksin yaitu Pfizer dengan efektivitas 95%, Modena 94%, dan Sinovac 90%. Menurutnya, kandidat vaksin yang terakhir ini yang diuji di Bandung untuk rencana vaksinasi Indonesia.
“Efektif 90% berarti kemungkinan gagal atau tidak aman dan tidak manjur sebesar 10%. Bila yang akan divaksin 1 juta orang, berarti kemungkinan yang gagal 100 ribu orang,” papar Direktur RS Pusri Palembang ini.
Gagal yang dimaksud yaitu antibodinya tidak cukup untuk melindungi dirinya dari infeksi. Karena itu, dia berharap semua pihak yang bertanggungjawab terhadap vaksin COVID-19 harus ekstra hati-hati dalam memutuskan, merencanakan, memberikan, dan monitoring hasil atau efeknya.
“Keselamatan jiwa seluruh rakyat adalah yang utama,” tegas Yuwono.
Menurutnya, vaksin COVID-19 akan memicu imunitas spesifik sama dengan orang yang pernah terinfeksi (positif) dan sembuh, juga punya imunitas spesifik. Adapun menjaga imunitas tetap kuat dengan cukup tidur, makan, gerak, dan pikiran positif adalah imunitas secara umum.
“Baik spesifik maupun umum, semua penting,” imbuhnya.
Yuwono mengingatkan, tidak satu pun pendekatan yang secara tunggal bisa mengatasi pandemi ini. Ketika WHO mengarahkan bahwa disiplin penggunaan masker, menjaga jarak, lockdown, dan vaksin tidak cukup, lantas apa lagi yang mencukupi untuk mengatasi pandemi ini?
Jawaban dari ilmu medis dan jawaban Alquran sama yaitu ubah perilaku. Perilaku buruk yang beresiko terkena penyakit apapun diubah menjadi perilaku baik yang mendukung kesehatan dan kebugaran.
“Sekitar 75% perilaku ditentukan cara berpikir kita,” tegasnya.
Pikiran positif tersebut, antara lain semangat untuk terus belajar, terbuka pada hal yang benar atau yang lebih baik, optimis, hormat, toleran, dan peduli terhadap orang lain. Begitu juga dengan hidup selalu ceria, fokus pada amanah atau urusannya masing-masing, tidak mengomentari orang lain atau bahkan suka menyudutkan orang lain adalah pikiran positif.
“Ayo kita mulai berpikir positif,” imbaunya seraya mengajak masyarakat untuk lebih cerdas dengan menelaah lagi skema uji klinis fase 3 kandidat vaksin.
“Kita tunggu apakah uji coba di Bandung akan terbuka disampaikan atau kita hanya akan dikabari efektif,” pungkasnya. (ads/yas)
#satgascovid19 #ingatpesanibu #ingatpesanibupakaimasker #ingatpesanibujagajarak #ingatpesanibucucitangan #pakaimasker #jagajarak #jagajarakhindarikerumunan #cucitangan #cucitangandengansabun
















