JOGJA, fornews.co – Seorang peneliti Psikologi UGM mengungkapkan hampir 90 persen sekolah di Indonesia mengalami kasus perundungan atau bullying.
Perilaku perundungan atau bullying seperti penghinaan, mencela, mengancam, fitnah, dan pelecehan, hingga kekerasan fisik, telah menjadi kebiasaan masyarakat di Indonesia.
Baca: Bahaya! Bullying Akibatkan Bunuh Diri
“Ada seorang profesor yang mengatakan bullying tidak bisa dihilangkan. Terima saja sebagai bagian dari budaya kita,” seloroh Novi Poespita Candra, S,Psi, M.Psi, Ph.D, Psikolog, Sabtu.
Hal itu disayangkan Novi saat menjadi narasumber Workshop Parenting yang kedua bertema “Perlindungan Anak dari Kekerasan Verbal: Perundungan” digelar oleh Yayasan Rumah Impian Indonesia (Dreamhouse) di Gedung BK3S DIY, Kota Jogja, pada Sabtu, 8 Juni 2024.

KPAI mencatat kasus perundungan di Indonesia sepanjang 2023 terdapat 3.800 kasus. Pada Januari hingga Agustus 2023 terdapat 2.355 kasus pelanggaran terhadap perlindungan anak 837 di antaranya terjadi pada lingkup pendidikan.
Kalau kemudian mereka menjadi pribadi yang punya masalah hal itu karena disebabkan oleh ekosistem yang tidak positif.
Lantas, apa yang harus dilakukan untuk mengantisipasi hal itu? Tanya Novi. Maka, harus diciptakan ekosistem yang positif bagi anak-anak baik di rumah maupun di sekolah.
Baca: Tanpa Akta Kelahiran Anak Kehilangan Hak Layanan Publik
Dijelaskan, ekosistem dapat diciptakan dengan tiga syarat yang harus dipenuhi. Tentu saja ekosistem yang memenuhi kodrat-kodrat manusia.
Pertama, memberikan ruang rasa ingin tahu secara terus-menerus. Kedua, memberikan ruang untuk dapat selalu kreatif dan berimajinasi. Ketiga, memberikan ruang untuk selalu menciptakan hal-hal yang unik.
“Jadi, tidak harus selalu disuruh,” ujarnya.
Di era digitalisasi seperti sekarang membuat anak-anak dan orang tua kehilangan budaya dialog dan komunikasi. Bahkan, menyebabkan anak-anak kehilangan ekosistem yang positif.
Penggunaan gawai yang berlebihan dapat mempengaruhi cara berpikir manusia. Otak menjadi terganggu. “ini sudah ada studinya.”
Padahal, kata Novi, dengan budaya dialog dan komunikasi akan muncul kasih sayang dan cinta kasih—yang sebenarnya justru dibangun dari dialog dan komunikasi.
Pentingnya ruang dialog dan komunikasi akan memunculkan kesadaran diri terhadap hal-hal positif untuk menghindari perundungan atau bullying.
Maka, lanjut Novi, agar mereka menjadi anak-anak yang saling menyayangi, saling menghormati, tidak saling menyakiti, dan bertanggung jawab, hanya bisa ditumbuhkan dengan dialog, komunikasi dan kesadaran.
“Temani mereka, biarkan anak-anak mengalami kesulitan dan tantangannya.”
“Sayangnya, kesadaran diri itu tidak dilakukan. Padahal, sebetulnya sederhana. Tetapi karena tidak dilakukan akibatnya menjadi sulit,” ucapnya.
Baca: Celaka! Masih Banyak Orangtua Sesatkan Anak
Berbagai kasus bunuh diri dan kekerasan yang terjadi di Jogja beberapa waktu lalu menjadi perhatian serius pemerintah setempat.
Kasus bunuh diri dan kekerasan yang terjadi pada mahasiswa perguruan tinggi di Jogja menampar citra Daerah Istimewa Jogjakarta sebagai Kota Pendidikan.
“Dinas Sosial sendiri mengurusi 24 Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) dari dalam kandungan hingga meninggal dunia,” ungkap Kepada Dinas Sosial Daerah Istimewa Jogjakarta (DIJ), Sigit Alifyanto, M.M.
Sigit menyampaikan, peran Dinas Sosial memberikan restorasi sosial untuk mengajak warga masyarakat Jogja kembali kepada nilai-nilai luhur Jawa.

Ada 25 nilai-nilai luhur Jawa, Ngayogyakarta Hadiningrat, di antaranya ketulusan, kejujuran, dan saling tolong-menolong yang akan dikembangkan oleh Dinas Sosial Provinsi DIJ.
“Semua itu kembali ke masyarakat. Masyarakat dapat menjadi rul model dan figur yang bagus,” ucapnya.
Selain program-program untuk menjaga anak-anak sebagai generasi emas, Dinas Sosial DIJ telah mengajak kaum muda untuk bergabung dalam berbagai kegiatan sosial.
Kaum muda ditawarkan menjadi relawan sosial seperti siaga bencana, karang taruna, dan pekerja sosial. Mereka dapat magang dan berinteraksi. Dan setelah selesai, ilmunya dapat bermanfaat bagi masyarakat.
“Dalam sebuah kehidupan, kita biasanya tergantung pada aturan-aturan. Yang perlu kita lakukan adalah perubahan kultur baru,” ujar Novi.
Novi mengkritisi budaya saling berkompetisi yang mengakibatkan masyarakat tidak saling percaya satu dengan lainnya.
Baca: Awas! Pola Pengasuhan Menentukan Kualitas Anak
Ia meyakini, perubahan dapat dilakukan hanya melalui pendidikan. Tidak hanya pendidikan formal, namun, juga berinteraksi terutama melalui keluarga.
Novi menyebut pendidikan hari ini hitungannya melulu materialisme. Misalnya, orang tua pendekatannya akademik ke arah tuntutan prestasi. Tetapi, para orang tua tidak membangun keutuhan pribadi atau potensi terhadap anak.
Di sekolah pun demikian. Sekolah hanya disibukkan dengan administrasi, standarisasi, aturan-aturan standar prestasi yang ditentukan oleh kebijakan.
Padahal, menurut Novi, untuk dapat merubah kultur baru itu diperlukan cara berpikir baru. Tiap sekolah bukan hanya mengejar akademik atau prestasi.
Tiap sekolah harus berupaya menumbuhkan potensi terbaik manusia—dan itu bisa mengembalikan lagi kemanusiaan.
“Menurut saya harus ada revolusi pendidikan dan revolusi pembaharuan,” ungkapnya.
Baca: Kemiskinan Penyebab Utama Anak Mencari Nafkah di Jalan
Founder Yayasan Rumah Impian Indonesia, Sammy Lapodooh, S.S, M.Th., menyebut
berdasar catatan Dinas P3AP2 DIY, pada tahun 2023 kasus kekerasan di Daerah Istimewa Jogjakarta (DIJ) meningkat hingga 414 kasus.
Mayoritas kasus kekerasan terhadap anak dialami oleh anak pada rentang usia 11-17 tahun dan berjenis kelamin perempuan.
Sepanjang tahun 2023 tercatat sebanyak 21 kasus kekerasan berbasis online. Korban paling banyak mengalami kekerasan dalam bentuk kekerasan seksual.
Workshop Parenting bertema “Perlindungan Anak dari Kekerasan Verbal: Perundungan” digelar agar para orang tua dapat mengenal dampak buruk bullying.
Workshop Parenting kedua ini menghadirkan narasumber Kepala Dinas Sosial DIY Sigit Aliyanto, M.M, Novi Poespita Candra, S,Psi, M.Psi, Ph.D, Psikolog (Dosen dan Peneliti Fakultas Psikolog UGM), Dr. Sugiyanto (LKKS BK3S) DIY, dan Founder Yayasan Rumah Impian Indonesia, Sammy Lapodooh, S.S, M.Th.
Workshop Parenting kedua yang digelar Yayasan Rumah Impian Indonesia melibatkan 37 orang tua dampingan dari Jogoyudan, Tukangan, Sidomulyo, Tlukan, Wonocatur, dan Kalasan.
“Harapannya, agar para orang tua dapat berperan aktif dalam pencegahan bullying verbal,” pungkas Sammy. (adam)
Copyright © Fornews.co 2023. All rights reserved.

















