SEKAYU, fornews.co – Guna memaksimalkan penanganan COVID-19 di wilayahnya, Pemkab Musi Banyuasin melakukan pengadaan alat rapid test antigen. Rapid test antigen ini tingkat akurasinya lebih baik dari rapid test antibody yang selama ini digunakan.
Kepala BPJS Kesehatan Palembang M Ichwansyah mengatakan, saat ini untuk Sumatra Selatan, penyediaan alat rapid test antigen hanya ada di Kabupaten Muba. Menurut Ichwansyah, hasil dari rapid test antigen ini jauh lebih akurat dibanding rapid test antibody.
“Untuk saat ini (rapid test antigen) cuma ada di Kabupaten Musi Banyuasin. Adapun akurasinya mencapai 80 persen dan jauh lebih tinggi dibandingkan rapid test antibody yang hanya berkisar 30 sampai 40 persen akurasinya,” ujar Ichwansyah.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Muba dr Azmi Dariusmansyah mengatakan, pengadaaan alat rapid test antigen ini sebagai respons cepat Pemkab Muba untuk mendeteksi laju penularan COVID-19. Pengoperasian alat rapid test antigen ini membuat Pemkab Muba selangkah di depan daerah lain yang masih menggunakan rapid test antibody yang tingkat akurasinya rendah. Bahkan bukan hanya peralatan uji rapid test antigen yang diadakan, namun juga dilengkapi dengan bio septic cabinet (BSC) yaitu ruangan tempat pemeriksaan pasien.
“Rapid test antigen ini sudah tiba di Muba sekitar dua minggu lalu. Biasanya peralatan ini hanya digunakan di lingkup kerja laboratorium saja. Selain jarang yang menggunakan, harga alat rapid test antigen ini juga sangat tinggi. Bahkan untuk penyediaan BSC atau ruangan tempat pemeriksaan pasiennya saja, harga per unitnya lebih dari Rp200 juta. Sedangkan Muba memiliki tiga unit BSC yang disediakan untuk mendukung rapid test antigen. Alat tersebut disiapkan di RS Sekayu, RS Bayung Lencir dan Dinkes Musi Banyuasin,” terang Azmi, Senin (15/06).
Menurut Azmi, keunggulan dari rapid test antigen sendiri yaitu, tingkat akurasi untuk screening pasien COVID-19 lebih tinggi dibandingkan rapid test antibody. Karena rapid test antibody memeriksa dari sampel darah. Sedangkan rapid test antigen memeriksa sampel nasofaring atau bagian atas tenggorokan yang terletak di belakang hidung.
Untuk memastikan operasional peralatan berjalan baik, pada Selasa 9 Juni 2020, Dinkes Musi Banyuasin dibantu petugas Balai Teknis Laboratorium Kesehatan dan Pengendalian Penyakit (BTLK-PP) Kelas 1 Palembang, sudah melatih petugas Dinkes untuk melakukan rapid test antigen.
“Kalau screening total tetap pakai rapid test antibody. Namun untuk Pasien Dalam Pengawasan (PDP) dan Orang Tanpa Gejaka (OTP), wajib pakai rapid test antigen,” katanya.
Diakui Azmi, sebelum disediakannya rapid test antigen dan BSC, para tenaga medis di Muba kesulitan untuk mengintervensi apa yang harus dilakukan. Karena hasil swab test pasien yang dites keluar dua minggu setelahnya.
“Hal ini menyebabkan kesulitan dalam melakukan contact tracing. Apalagi banyak kasus hasil rapid test antibody menunjukkan positif, sedangkan hasil swab test keluar negatif COVID-19. Minimnya akurasi ini yang membuat tugas para tenaga medis semakin kesulitan,” ujarnya.
Kedepan lanjut Azmi, untuk menunjang pendeteksi pasien yang terpapar COVID-19, Pemkab Musi Banyuasin di bawah komando Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Muba Dodi Reza Alex akan menyiapkan Reverse Transscriptase-Polymerase Chain Reaction (RT-PCR).
“Kita akan menyediakan RT-PCR di RS Sekayu. Sedangkan di RS Bayung Lencir ada RT-PCR yang dialihfungsikan. Dulunya digunakan untuk pemeriksaan pasien TBC, sekarang untuk COVID-19,” terangnya.
Hingga saat ini, kasus penularan Corona Covid-19 di Musi Banyuasin didominasi berasal dari para pendatang, atau dari klaster perusahaan. Sedangkan dari klaster rumah tangga sangat sedikit. (ije)

















