YOGYAKARTA, fornews.co–Masjid Besar Mataram Kotagede pernah dijaga oleh abdi dalem dari dua kerajaan penerus Kasultanan Mataram Islam.
Seperti halnya Makam Imogiri yang dijaga dari dua kerajaan: Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta.
Masjid yang dibangun tahun 1587 itu adalah konsep dari Sunan Kalijaga.
Di sekitar Masjid banyak terdapat pohon buah jenis sawo kecik.
Seluruhnya berjumlah 17 pohon sawo kecik.
Di halaman Masjid berdiri Tugu Jam yang dibangun oleh Raja Surakarta Pakubuwana X.

Masjid itu dikelilingi oleh benteng Kasultanan Mataram bergaya Hindu.
Benteng dengan tinggi sekira 2 meter yang mengelilingi Masjid terdapat beberapa Kemuncak.
Di kanan-kiri Masjid terdapat bangunan mirip pendapa yang berfungsi sebagai tempat jaga.
Di bagian kiri, dijaga oleh abdi dalem dari Kerajaan Surakarta.
Di bagian kanan, dijaga oleh abdi dalem dari Kerajaan Yogyakarta.
Masjid Besar Mataram Kotagede sempat terbelah menjadi dua.

Pada bagian pinggiran bangunan Masjid, dibuat kolam yang mengelilingi masjid.
Kolam itu disebut Jagang, berfungsi sebagai tempat mencuci kaki bagi jamaah yang hendak masuk ke Masjid.
Dinding jagang dulunya hanya dibuat dari tumpukan batu putih.
Baca: Gudeg Identitas Jawa dari Masa Panembahan Senopati, Pendiri Kasultanan Mataram Islam
“Semua bagian itu ada makna dan filosofi,” kata Mas Penewu Reksa Leksana (66), Selasa (14/7/2020) sore.
Biasanya, lanjut Reksa Leksana, Jagang juga juga menjadi bagian dari benteng kerajaan.
Kata Mas Penewu Reksa Leksana, konsep Masjid Besar Mataram Kotagede berasal dari Sunan Kalijaga.
Baca: Legendaris Gudeg Jogja Mbah Lindu Dimakamkan
Makna itu dulu digunakan oleh Panembahan Senopati atas arahan Sunan Kalijaga untuk syiar Islam.
Ki Ageng Pamanahan adalah Ayah dari Panembahan Senopati, merupakan salah satu murid Sunan Kalijaga,
Masjid Besar Mataram Kotagede dibangun menggunakan kayu jati yang diambil dari Blora, Jawa Tengah.
Bahkan sejumlah tiang Masjid sudah berumur 400-an tahun.

Masjid Besar Mataram Kotagede yang berada di Komplek Makam Panembahan Senopati
Biasanya setiap malam Selasa dan Jum’at pada tanggal Jawa, di sekitar Masjid ramai dikunjungi. (adam)
















