
PALEMBANG- Kepala Badan Lingkungan Hidup (BLH) Sumsel Ir. Lukita Riati M.Si memperkirakan, satu orang setiap harinya menghasilkan sampah setengah Kilogram, jika dikalikan dengan 8 Juta jiwa penduduk Sumsel, artinya setiap hari menghasilkan sebanyak 4.000 ton sampah yang didominasi sampah rumah tangga. Untuk Kota Palembang, sampah yang diangkut ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) setiap waktu cenderung meningkat, mencapai 600-700 ton per hari.
Lukita Riati menjelaskan, peluang pengelolaan sampah yang bisa dilakukan diantaranya dengan pembangunan TPS regional melalui Kementrian PUPR di Kota Palembang dan Kabupaten Banyuasin. Kemudian, terbentuknya BLH menjadi Dinas Lingkungan Hidup Provinsi yang salah satu fungsinya adalah pengelolaan sampah lintas Kabupaten/Kota, serta potensi peranan pihak swasta melalui CSR.
“Tantangan pada Asian Games mendatang, diperkirakan potensi peningkatan sampah antara 15.000 orang dikalikan setengah kilogram sampah per orang per hari yakni 7,5 ton per hari. Selain itu, sampah yang tidak terangkut berkisar 7,9 ton per hari. Sehingga potensi sampah tidak terlayani sebanyak 15,4 ton Per hari. Jadi, kita bersama-sama memikirkan bagaimana agar bisa mengurangi sampah, dan salah satu upaya kita melalui seminar ini,” ungkapnya, pada seminar Gerakan Tiga Jari Kelola Sampah, Pilah, Kompos, dan Daur Ulang Menuju Indonesia Bersih Sampah 2020, di Ballroom Hotel Aryaduta Palembang, Kamis (24/11).
Dihadapan Kasubdit Sampah Spesifik dan Daur Ulang Kementerian LHK RI Dr. Haruki Agustina, Lukita menuturkan, pengelolaan sampah yang dimaksud adalah sampah sisa dari keseharian manusia atau alam, seperti sampah organik berasal dari sisa makanan dan sampah nonorganik berupa plastik. Untuk sampah organik dalam kondisi tertentu bisa menghasilkan gas metan yang berdampak pada efek rumah kaca.
“Sebetulnya konsep kita adalah upaya pengurangan sampah ke TPA dengan Reduse, Reuse, dan Recycle (3R) serta melakukan sosialisasi ke masyarakat untuk mengurangi sampah dengan memanfaatkannya kembali dalam bentuk yang lain,” tuturnya.
Untuk pengelolaan sampah menjadi Kompos, Lukita Riati menerangkan, saat ini kondisinya sudah cukup banyak dilakukan. Namun, kendala yang dihadapi yakni sampah tidak terpilah diantaranya diakibatkan masih rendahnya kesadaran masyarakat. Jadi, persoalan sampah menjadi prioritas bagi pemerintah Sumsel.
“Selain sosialisasi pada masyarakat mengenai bagaimana cara mengurangi sampah setiap harinya, sampah yang timbul sebenarnya bisa digunakan kembali dalam bentuk yang lain, dikelola menjadi kompos dan bahkan sampah yang berpotensi bisa dijadikan sebagai bahan bakar. Mari sama-sama kita memikirkan dan berusaha mengoptimalkan pemanfaatan sampah dan bagaimana cara mengurangi pertumbuhan sampah setiap harinya,” pungkasnya. (tul)

















